“Orang-orang bakal mikir apa ya?”
Sumber: pexels.com
Pertanyaan sederhana yang ternyata bisa membuat Puan ngerasa seolah-olah sedang jadi sorotan semua orang. Padahal, belum tentu. Nah dalam psikologi, kecenderungan untuk melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita ini dikenal sebagai “The Spotlight Effect”.
Apa Itu The Spotlight Effect?
Istilah The Spotlight Effect diperkenalkan oleh Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky melalui penelitian mereka pada tahun 2000. Mereka menjelaskan The Spotlight Effect adalah kondisi ketika seseorang mengira bahwa tindakan dan penampilannya begitu diperhatikan oleh orang lain, padahal kenyataannya tidak sebesar yang mereka bayangkan.
Menurut Gilovich et al. (2000), kita cenderung melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan diri kita. Hal ini berkaitan dengan egocentric bias, yaitu kecenderungan melihat suatu situasi dari sudut pandang diri sendiri karena Puan paling sadar terhadap penampilan, tindakan, dan kesalahan yang Puan lakukan, alhasil Puan pikir kalau orang lain juga ngasih perhatian sebesar itu.
Baca Juga: What Is the Egocentric Bias? | Definition & Examples
Contoh The Spotlight Effect dalam Kehidupan Sehari-hari
The Spotlight Effect bisa muncul dalam berbagai situasi sederhana yang mungkin tanpa sadar sering Puan alami, seperti:
- Salah jawab saat presentasi
Saat presentasi, Puan melakukan kesalahan, misalnya nggak tahu jawaban dari pertanyaan atau ngomongnya jadi belibet. Setelah itu, Puan jadi merasa kalau semua orang akan ingat kesalahan Puan waktu presentasi tersebut. - Merasa outfit kelihatan aneh
Lagi pakai outfit yang rasanya kurang nyambung atau beda kaya biasanya. Pas ketemu banyak orang, Puan jadi takut kalau mereka notice pakaian atau penampilan Puan kelihatan aneh. - Overthinking setelah mengunggah sesuatu di media sosial
Baru upload story beberapa menit, tiba-tiba Puan kepikiran, “Aduh, postingan tadi cringe nggak ya?” atau “Kira-kira orang bakal mikir apa ya?” - Melakukan kesalahan kecil di tempat umum
Misalnya Puan tersandung, salah masuk ruangan, atau melakukan sesuatu yang menurut Puan memalukan di tempat umum. Ternyata ada orang lain yang lihat, Puan jadi ngerasa banyak orang notice dan akan ingat kejadian tersebut.
Padahal, belum tentu loh. Orang-orang nggak selalu mikirin sebegitunya tentang Puan. Apa yang menurut Puan merupakan hal besar, belum tentu orang lain menganggap sama besarnya. Akibat Puan terus-terusan memikirkan hal tersebut, Puan justru semakin merasa semua orang memperhatikan dan menilai diri Puan. Padahal sebenarnya cuma mendapat sedikit perhatian dari orang lain atau bahkan nggak diperhatikan sama sekali. Lalu, kenapa kita bisa merasa seolah-olah orang lain begitu memperhatikan kita?
Mengapa The Spotlight Effect Bisa Terjadi?
The Spotlight Effect bisa terjadi karena Puan punya akses paling besar terhadap pengalaman diri Puan sendiri. Puan tahu apa yang Puan pikirkan, rasakan, lakukan, bahkan kesalahan kecil yang terjadi. Sementara itu, Puan nggak punya akses yang sama terhadap pikiran orang lain. Akibatnya, Puan cenderung menggunakan pengalaman diri sendiri sebagai patokan untuk membayangkan apa yang orang lain pikirkan. Setelah tahu bahwa Puan sering melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan Puan. Lantas apa yang bisa Puan lakukan?
Cara Mengurangi Kecenderungan The Spotlight Effect
Salah satu hal yang bisa dicoba adalah mengubah cara Puan melihat situasi. Ketika mulai merasa semua orang memperhatikan suatu kesalahan atau penampilan kita, coba ambil jarak sebentar dari sudut pandang sendiri. Coba bertanya, “Kalau aku melihat orang lain melakukan hal yang sama, apakah aku akan mengingatnya selama itu?” Dari sini, kita bisa melihat situasi dengan perspektif yang lebih luas, bukan hanya berdasarkan apa yang sedang kita rasakan.
Setelah itu, kembalikan perhatian pada apa yang sedang dijalani. Kalau sedang presentasi, fokus pada materi yang ingin disampaikan. Kalau sedang berkumpul dengan teman, nikmati obrolannya. Dengan begitu, perhatian Puan nggak terus-menerus tertuju pada bagaimana diri Puan terlihat di mata orang lain.
Terakhir, beri diri Puan ruang untuk menjadi diri sendiri. Puan bisa aja salah ngomong, salah pilih outfit, atau melakukan hal kecil yang terasa memalukan tanpa harus menganggap hal ini sesuatu yang besar.
Selama ini Puan terlalu sibuk membayangkan bagaimana Puan terlihat di mata orang lain, sampai lupa menikmati apa yang sedang Puan jalani. Memahami The Spotlight Effect bukan berarti Puan harus berhenti peduli pada bagaimana orang lain melihat Puan. Justru, Puan jadi punya pilihan untuk menentukan mana yang memang perlu dipikirkan dan mana yang cukup dilewatkan.
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.
Gilovich, T., Medvec, V. H., & Savitsky, K. (2000). The spotlight effect in social judgment: An egocentric bias in estimates of the salience of one’s own actions and appearance. Journal of Personality and Social Psychology, 78(2), 211–222.

Komentar
Posting Komentar