Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Berbagi Luka atau Trauma Dumping? Kenali Bedanya!

 

Sumber: Freepik


Berbagi cerita kepada keluarga, teman, atau pasangan menjadi hal yang menyenangkan dan menjadi hal yang rutin dilakukan. Karena rasanya dengan saling berbagi cerita, kita bisa menjadi saling memahami satu sama lain. Namun, tahukah Puan kalau terlalu banyak menceritakan perasaan atau oversharing bisa menjadi curhatan yang toxic?


Curhatan yang toxic atau trauma dumping mengacu pada perilaku seseorang yang berulang kali membagikan pengalaman traumatis mereka kepada orang lain dengan tujuan mencari simpati, tanpa adanya refleksi diri atau tanggung jawab. Perilaku ini sering kali mendominasi percakapan dan dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman, tidak diberi kesempatan untuk merespons, atau bahkan membuat mereka tidak tahu bagaimana cara merespons dengan baik. 


Perbedaan antara Trauma Dumping dan Curhatan yang Sehat


"Melampiaskan emosi seringkali menjadi cara untuk berbagi rasa frustrasi dengan seseorang yang Anda percaya untuk mengurangi stres," Ujar Dr. Kia-Rai Prewitt, dikutip dari Health Cleveland Clinic.


Namun, penting untuk Puan membedakan antara curhat yang sehat dan trauma dumping. Berbagi perasaan yang sehat biasanya merupakan kebutuhan satu kali untuk melepas beban atau meluapkan emosi dari dalam diri, sementara trauma dumping adalah perilaku berulang yang mencari simpati terus-menerus tanpa mempertimbangkan perasaan pendengar. Berikut perbedaan antara melampiaskan emosi yang sehat dengan yang tidak:



Curhat yang Sehat

Trauma Dumping

  • Cerita di waktu dan momen yang tepat.

  • Berbagi secara berlebihan tanpa melihat situasi atau waktu.

  • Saling berbagi cerita.

  • Tidak mengizinkan orang lain ikut menceritakan keluh kesahnya.

  • Mau menerima solusi atas masalahnya.

  • Tidak mau mencari atau menerima solusi atas masalah yang terjadi.

  • Hanya menceritakan satu topik masalah dalam satu waktu.

  • Menceritakan berbagai topik dan pergantiannya terjadi dalam waktu yang cepat

  • Menetapkan batas waktu ketika bercerita

  • Bercerita dalam durasi yang lama



Hal-hal di atas perlu Puan ketahui dan ingat ketika akan bercerita. Sehingga Puan tidak mengubah venting atau curhatan yang sehat menjadi trauma dumping. Sebab hal tersebut dapat memengaruhi kondisi hubungan Puan dengan keluarga, teman, atau kerabat Puan yang lainnya. Orang-orang mungkin akan merasa tidak nyaman, kebingungan untuk merespon cerita yang Puan sampaikan, dan akhirnya bisa menjadi resisten atau menjauh. Akibatnya dapat menciptakan jurang antara Puan dengan orang lain. Selain itu, trauma dumping juga dapat membuat hubungan menjadi satu arah, di mana satu orang selalu menjadi pusat perhatian dan kebutuhan mereka selalu didahulukan, yang bisa sangat melelahkan bagi orang lain dan menyebabkan hubungan tersebut menjadi tidak seimbang. 


Cara Mengatasi Trauma Dumping


Dengan Puan mengetahui perbedaan antara curhatan yang sehat dengan trauma dumping, ini menjadi satu langkah maju bagi Puan untuk bisa mengatasi trauma dumping. Puan juga bisa melakukan cara-cara lain, seperti berikut.

  1. Meningkatkan Kesadaran Diri. Penting banget untuk Puan meningkatkan kesadaran diri bahwa Puan memiliki pengalaman trauma. Dengan begitu Puan bisa mengambil langkah untuk mencari solusi, seperti dengan berbagi cerita kepada orang yang tepat.

  2. Sebelum berbagi pengalaman traumatis, pertimbangkan apakah situasi dan pendengar sesuai untuk mendengarkan cerita Anda. 

  3. Mencari Bantuan Profesional. Jika Puan merasa perlu membagikan pengalaman traumatis secara berulang, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental yang dapat memberikan ruang yang aman atas kesulitan yang Puan alami. 

  4. Menetapkan Batasan. Puan bisa melakukannya dengan hanya menceritakan topik tertentu di waktu yang tepat dan dengan orang-orang yang menurut Puan bisa membantu memberikan solusi. Puan juga bisa menanyakan kembali perasaan mereka soal masalah yang Puan sedang rasakan.


Perlu diingat, tidak semua pelepasan trauma terlihat sama karena dapat berasal dari berbagai alasan. Dalam beberapa situasi, hal tersebut dapat menyebabkan ketegangan dalam hubungan. Jika Puan menyadari perlu untuk menceritakan trauma atau momen sulit lainnya, cobalah untuk jujur ​​tentang perasaan diri sendiri dan apa yang dibutuhkan. Jangan ragu untuk mencari bantuan dari para profesional yang dapat membantu dan memberikan solusi yang tepat dari masalah yang Puan alami.



Referensi:

When Venting Turns Toxic: What Is Trauma Dumping?



Penulis & Editor:
Farah Unzuria S. 

Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Membuka Kembali Memori Melalui Pameran ACE 5.0: INNER CHILD

  Masa kecil sering kali menjadi sumber kepolosan, kekreatifan, dan keajaiban yang mungkin telah kita lupakan di tengah kesibukan dan tekanan kehidupan dewasa. Namun, di tengah gemuruh kota metropolitan, ada suatu perayaan yang mengundang kita untuk merenungkan kembali sisi kecil yang mungkin telah kita lupakan: ACE 5.0: INNER CHILD . Pameran seni tidak selalu hanya tentang memamerkan karya, tetapi juga tentang membuka pintu menuju introspeksi dan penemuan diri. Di tengah sorotan pameran kreatif yang diselenggarakan oleh Klub LSPR Advertising Society , ACE 5.0: INNER CHILD, pengunjung diajak untuk membenamkan diri dalam dunia kepolosan dan kekreatifan masa kecil. Setiap tahun, Klub LSPR Advertising Society menggelar Advertising Creative Exhibition (ACE) , sebuah pameran seni yang memamerkan karya-karya kreatif dari para anggotanya. Setelah suksesnya ACE sebelumnya yang mengangkat tema 'Gender Equality' dengan tajuk SETARA “Setingkat dan Sederajat”, kini ACE kembali hadir dalam ...