Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Berbagi Luka atau Trauma Dumping? Kenali Bedanya!

 

Sumber: Freepik


Berbagi cerita kepada keluarga, teman, atau pasangan menjadi hal yang menyenangkan dan menjadi hal yang rutin dilakukan. Karena rasanya dengan saling berbagi cerita, kita bisa menjadi saling memahami satu sama lain. Namun, tahukah Puan kalau terlalu banyak menceritakan perasaan atau oversharing bisa menjadi curhatan yang toxic?


Curhatan yang toxic atau trauma dumping mengacu pada perilaku seseorang yang berulang kali membagikan pengalaman traumatis mereka kepada orang lain dengan tujuan mencari simpati, tanpa adanya refleksi diri atau tanggung jawab. Perilaku ini sering kali mendominasi percakapan dan dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman, tidak diberi kesempatan untuk merespons, atau bahkan membuat mereka tidak tahu bagaimana cara merespons dengan baik. 


Perbedaan antara Trauma Dumping dan Curhatan yang Sehat


"Melampiaskan emosi seringkali menjadi cara untuk berbagi rasa frustrasi dengan seseorang yang Anda percaya untuk mengurangi stres," Ujar Dr. Kia-Rai Prewitt, dikutip dari Health Cleveland Clinic.


Namun, penting untuk Puan membedakan antara curhat yang sehat dan trauma dumping. Berbagi perasaan yang sehat biasanya merupakan kebutuhan satu kali untuk melepas beban atau meluapkan emosi dari dalam diri, sementara trauma dumping adalah perilaku berulang yang mencari simpati terus-menerus tanpa mempertimbangkan perasaan pendengar. Berikut perbedaan antara melampiaskan emosi yang sehat dengan yang tidak:



Curhat yang Sehat

Trauma Dumping

  • Cerita di waktu dan momen yang tepat.

  • Berbagi secara berlebihan tanpa melihat situasi atau waktu.

  • Saling berbagi cerita.

  • Tidak mengizinkan orang lain ikut menceritakan keluh kesahnya.

  • Mau menerima solusi atas masalahnya.

  • Tidak mau mencari atau menerima solusi atas masalah yang terjadi.

  • Hanya menceritakan satu topik masalah dalam satu waktu.

  • Menceritakan berbagai topik dan pergantiannya terjadi dalam waktu yang cepat

  • Menetapkan batas waktu ketika bercerita

  • Bercerita dalam durasi yang lama



Hal-hal di atas perlu Puan ketahui dan ingat ketika akan bercerita. Sehingga Puan tidak mengubah venting atau curhatan yang sehat menjadi trauma dumping. Sebab hal tersebut dapat memengaruhi kondisi hubungan Puan dengan keluarga, teman, atau kerabat Puan yang lainnya. Orang-orang mungkin akan merasa tidak nyaman, kebingungan untuk merespon cerita yang Puan sampaikan, dan akhirnya bisa menjadi resisten atau menjauh. Akibatnya dapat menciptakan jurang antara Puan dengan orang lain. Selain itu, trauma dumping juga dapat membuat hubungan menjadi satu arah, di mana satu orang selalu menjadi pusat perhatian dan kebutuhan mereka selalu didahulukan, yang bisa sangat melelahkan bagi orang lain dan menyebabkan hubungan tersebut menjadi tidak seimbang. 


Cara Mengatasi Trauma Dumping


Dengan Puan mengetahui perbedaan antara curhatan yang sehat dengan trauma dumping, ini menjadi satu langkah maju bagi Puan untuk bisa mengatasi trauma dumping. Puan juga bisa melakukan cara-cara lain, seperti berikut.

  1. Meningkatkan Kesadaran Diri. Penting banget untuk Puan meningkatkan kesadaran diri bahwa Puan memiliki pengalaman trauma. Dengan begitu Puan bisa mengambil langkah untuk mencari solusi, seperti dengan berbagi cerita kepada orang yang tepat.

  2. Sebelum berbagi pengalaman traumatis, pertimbangkan apakah situasi dan pendengar sesuai untuk mendengarkan cerita Anda. 

  3. Mencari Bantuan Profesional. Jika Puan merasa perlu membagikan pengalaman traumatis secara berulang, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental yang dapat memberikan ruang yang aman atas kesulitan yang Puan alami. 

  4. Menetapkan Batasan. Puan bisa melakukannya dengan hanya menceritakan topik tertentu di waktu yang tepat dan dengan orang-orang yang menurut Puan bisa membantu memberikan solusi. Puan juga bisa menanyakan kembali perasaan mereka soal masalah yang Puan sedang rasakan.


Perlu diingat, tidak semua pelepasan trauma terlihat sama karena dapat berasal dari berbagai alasan. Dalam beberapa situasi, hal tersebut dapat menyebabkan ketegangan dalam hubungan. Jika Puan menyadari perlu untuk menceritakan trauma atau momen sulit lainnya, cobalah untuk jujur ​​tentang perasaan diri sendiri dan apa yang dibutuhkan. Jangan ragu untuk mencari bantuan dari para profesional yang dapat membantu dan memberikan solusi yang tepat dari masalah yang Puan alami.



Referensi:

When Venting Turns Toxic: What Is Trauma Dumping?



Penulis & Editor:
Farah Unzuria S. 

Komentar

Rubik Puan Popular

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...