Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

Bilang 'Tidak' Bukan Berarti Egois Kok! Panduan Buat Kamu yang Selalu ingin Menyenangkan Semua Orang.



Apakah Puan pernah berada di posisi menerima ajakan atau permintaan seseorang hanya karena takut mengecewakan orang tersebut kalau menolak? Kalau iya, bisa jadi puan termasuk seorang people pleaser. 


Setiap orang tentu selalu berusaha untuk menjadi orang yang baik dan peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Tetapi, jika Puan selalu merasa bertanggung jawab dengan harapan semua orang hingga membuat Puan melupakan diri sendiri, hal tersebut malah akan menjadi beban yang merusak diri Puan secara perlahan-lahan.  


Nah! Lewat tulisan ini, mari kita sama-sama belajar untuk berkata “tidak” yang  bisa menjadi langkah penting untuk menjaga diri sendiri. 


Namun sebelum itu, Puan familiar nggak sih sama perilaku people pleaser? People pleaser sendiri merupakan sebutan untuk seseorang yang memiliki dorongan kuat untuk menyenangkan orang lain dengan cara yang berlebihan dan bahkan dengan mengorbankan kenyamanan serta kebutuhan diri sendiri agar orang lain tidak merasa kecewa terhadapnya. 


Biasanya orang dengan perilaku People Pleaser mempunyai ciri-ciri seperti : 

  1. Merasa kesulitan untuk berkata ‘tidak’ pada permintaan orang lain.

  2. Sering merasa bersalah ketika menolak permintaan seseorang. 

  3. Melakukan banyak pekerjaan ekstra padahal sedang tidak punya waktu luang.

  4. Cenderung mengubah sikap atau kepribadian demi orang lain. 

  5. Mementingkan kepentingan orang lain lebih dari diri sendiri. 


Kalau Puan sering melakukan satu dari beberapa ciri di atas, Puan harus tahu kenapa seorang people pleaser sering kesulitan untuk bilang “tidak”. Seorang dengan sebutan people pleaser biasanya sulit untuk menolak orang lain dikarenakan takut disalahpahami sehingga dirinya cenderung menerima semua permintaan bahkan saat pekerjaan yang dilakukannya sendiri belum selesai. Selain itu, hal ini juga bisa disebabkan karena seseorang dengan perilaku people pleaser biasanya lebih memilih untuk menghindari konflik dan tidak ingin mempunyai rasa bersalah. 


Kebiasaan menyenangkan semua orang tanpa batasan juga bisa berdampak buruk loh! seperti:

  1. Terlalu mengabaikan diri sendiri 

  2. Stress berlebihan ketika tidak bisa menyenangkan orang lain.

  3. Sering merasa frustasi karena tidak punya waktu untuk diri sendiri. 

  4. Kehilangan jati diri. 


Meskipun begitu, kebiasaan menjadi people pleaser masih bisa diubah agar Puan bisa lebih menghargai dan memprioritaskan diri sendiri. Salah satu kunci utama untuk mengatasi kebiasaan people pleaser  yang selalu berusaha menyenangkan semua orang lain adalah dengan berkata “tidak.” Menolak bukan berarti Puan bersikap egois, hal ini adalah bentuk self-care yang Puan lakukan karena setiap orang berhak menetapkan batasan pribadi agar hidup lebih seimbang. Selain itu, beberapa cara yang dapat Puan lakukan adalah sebagai berikut.

  1. Tolak permintaan yang datang saat sedang sibuk dengan ramah namun tegas.

  2. Prioritaskan diri sendiri dan kebahagiaan Puan.

  3. Ubah mindset, jika menolak bukan berarti jahat.

  4. Jangan biarkan rasa bersalah dan tidak enak hati mengendalikan keputusan. 

  5. Evaluasi kembali hubungan yang membuat Puan terus mengalah. 

  6. Mengelola batasan pribadi dengan tegas. 


Oleh karena itu, Puan harus selalu ingat bahwa meskipun berkata “tidak” bukan pertanda bahwa kita egois, namun ini bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Kita tidak egois karena memilih diri sendiri untuk menjadi prioritas, tapi yang terpenting kita hanya sedang belajar membangun batasan pribadi yang sehat dengan setiap orang dan hal ini sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang lebih tenang dan bahagia.



Referensi :
Author & Editor :
Keisha Najwa Dwi Anggraeni




Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...