Langsung ke konten utama

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Logika Waktu Pendek: Terlalu Cepat Menelan, Terlalu Malas Mencerna



Image by: pixabay/koranrb.id


Puan, kapan terakhir kali kamu menyelesaikan satu buku sampai tuntas? 

Atau duduk tenang tanpa mengecek HP tiap saat?

Di tengah dunia yang serba cepat ini, kita hidup dalam arus informasi yang nyaris tak pernah berhenti. Segala sesuatu dituntut instan, seperti makanan, layanan, bahkan pengetahuan. Hal ini turut memengaruhi cara kita mengonsumsi informasi. Masyarakat kini cenderung lebih menyukai konten yang singkat, cepat, dan mudah diakses. Dalam budaya digital semacam ini, muncul sebuah pola pikir yang dikenal sebagai logika waktu pendek, yakni kecenderungan untuk menghindari bacaan panjang dan mendalam karena otak telah terbiasa menerima informasi dalam potongan kecil yang cepat selesai.


Utas Twitter, fiksimini, Reels, TikTok, hingga YouTube Shorts, semua jadi cara baru kita mengonsumsi cerita dan informasi secara cepat. Di satu sisi, bentuk ini menyenangkan karena praktis dan mudah dikonsumsi. Namun di sisi lain, kebiasaan ini bisa membuat kita terbiasa bergerak cepat tanpa benar-benar memahami atau meresapi isi yang kita konsumsi, seperti berlari tanpa tahu ke mana arah tujuan.



Apa sih logika waktu pendek itu, Puan?

Logika waktu pendek adalah kebiasaan atau pola pikir manusia modern yang makin sulit bertahan dalam proses membaca panjang, berpikir dalam, atau menikmati sesuatu dengan perlahan.


Dosen media dan budaya digital, Siva Vaidhyanathan, menyebut bahwa media sosial telah membuat kita terus-menerus "siaga" dan jarang benar-benar hadir. Kita terbiasa melompat dari satu topik ke topik lain, dari satu cerita ke video berikutnya, semuanya dalam hitungan detik.



Dampaknya ke hidup kita apa aja, sih?


  1. Susah fokus, apalagi mikir panjang

Penelitian dari University of California menunjukkan bahwa konsumsi konten singkat secara terus-menerus bisa menurunkan kemampuan membaca yang mendalam. Kita jadi mudah teralihkan dan makin sulit fokus saat menghadapi tugas panjang atau materi yang butuh konsentrasi tinggi.


  1. Kelelahan mental dan FOMO

Kalau merasa gampang capek walau seharian “cuma scroll medsos”, itu bisa jadi tanda kalau otak Puan lagi kelelahan karena menyerap informasi. Belum lagi perasaan takut ketinggalan tren atau berita yang terus berubah tiap jam.


  1. Diskusi jadi dangkal

Karena terbiasa membaca singkat dan cepat, kita cenderung bereaksi spontan tanpa mencerna. Ini bisa berdampak ke cara kita berdiskusi di media sosial, seringnya jadi debat kusir atau salah paham.


  1. Proses kreatif jadi terburu-buru

Banyak kreator yang merasa tertekan untuk membuat karya yang langsung viral. Padahal, proses kreatif sejatinya butuh waktu, riset, dan ruang untuk berkembang.




Terus, harus gimana dong biar nggak terjebak, Priska?


Tenang, Puan. Kita bisa kok tetap hidup di dunia digital tanpa kehilangan kedalaman berpikir. Berikut beberapa tips sederhana yang bisa Puan coba:


  1. Latih fokus secara perlahan. Coba baca artikel panjang atau buku fisik 10 menit sehari. Lama-lama otak Puan akan terbiasa kembali.

  2. Tentukan batas waktu online. Misalnya, jangan buka medsos satu jam sebelum tidur atau pas bangun pagi.

  3. Pilih konsumsi yang berkualitas. Ikuti akun yang edukatif, inspiratif, dan memberi ruang refleksi, bukan sekadar hiburan cepat.

  4. Nikmati proses yang lambat. Menulis jurnal, melukis, atau sekadar duduk minum teh bisa jadi bentuk perlawanan kecil terhadap dunia yang serba cepat.

  5. Selalu ingat: nggak semua harus direspons sekarang. Puan berhak istirahat. Dunia nggak akan runtuh cuma karena Puan istirahat sebentar.


Di dunia yang terbiasa buru-buru, melambat itu bisa jadi bentuk keberanian.

Logika waktu pendek memang susah dihindari di zaman yang serba cepat ini. Tapi kita bisa kok memilih: terus ikut terbawa arus, atau sesekali berhenti sejenak. Karena justru di saat berhenti itulah kita benar-benar bisa mendengar, bukan cuma suara di luar, tapi juga suara dari dalam diri sendiri.




Referensi:

Haryatmoko. (2005, 13 Juli). Logika waktu pendek media. Kompas, hlm. 6, kol. 3–6.

Author & Editor:

Sarah Ardelia 


Komentar

Rubik Puan Popular

3 Buku Fiksi Bertema Mental Health untuk Puan Baca

Source: Bookshop.org Hai Puan!  Puan suka baca buku? Atau suka dengan isu-isu terkait mental health? Pengetahuan seputar topik mental health bukan hanya bisa didapatkan dari buku ilmiah atau nonfiksi, tetapi juga dari buku fiksi. Selain bisa menghibur Puan, buku fiksi juga bisa bikin Puan larut dan merasakan emosi serta perasaan dari tokoh-tokohnya.  Nah, buat Puan yang lagi cari rekomendasi buku fiksi tentang mental health, baca terus artikel ini sampai habis ya! 1. Challenger Deep karya Neal Shusterman Cerita dalam buku ini berdasarkan kisah dari putranya sendiri yang mengalami gangguan mental. Challenger Deep bercerita tentang Caden Bosch, yaitu seorang siswa SMA yang mengidap skizofrenia. Masalah tersebut membuatnya sering mengalami halusinasi. Alur cerita terbagi ke dalam dua dunia: kehidupan sekolah Caen sehari-hari dan sebuah pelayaran di atas kapal laut menuju Challenger Deep (titik terdalam di Palung Mariana). Perjalanan di atas kapal merupakan gambaran dari halusinas...

Rasa Bosan Bisa Dijadikan Teman? Ini Manfaat Boredom yang Jarang Disadari

Sumber:  Magnific   Puan pernah nggak langsung membuka TikTok, Instagram, atau X hanya karena timbul rasa bosan akibat menunggu sesuatu? Kebiasaan seperti ini sangat umum terjadi karena otak Puan terbiasa mencari stimulasi setiap kali ada waktu kosong.  Mungkin, Puan sering kali menganggap rasa bosan sebagai sesuatu yang buruk, sehingga banyak dari Puan yang yang berlomba-lomba untuk menghilangkan perasaan tersebut dengan menjadi produktif Alih-alih mencerminkan bahwa diri Puan tidak produktif, rasa bosan dapat memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari banyaknya informasi yang silih berdatangan, memunculkan ide baru, hingga membantu Puan mengenali apa yang benar-benar bermakna.  Oleh karena itu, sesekali merasa bosan bukanlah hal yang buruk, selama terjadi dalam kadar yang wajar. Jika Puan merasa demikian, lalu Puan  tahu nggak sih apa itu boredom dan fakta lain dari boredom yang mungkin belum Puan ketahui. Apa Itu Boredom? Dalam psikologi, boredom a...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

How to Stay Productive While Grieving

  Source: https://pin.it/5b4AbRDlY   Pernah nggak, Puan merasa harus tetap menjalani aktivitas seperti biasa, sementara hati dan pikiran masih memproses duka? Ketika sedang berduka, hal-hal sederhana seperti bangun dari tempat tidur, membalas chat atau sekadar fokus selama beberapa menit saja bisa terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bukan karena Puan malas atau nggak mampu, tetapi karena grief dapat menguras energi kita. Namun, di sisi lain, hidup harus tetap berjalan. Ada tugas yang harus dikumpulkan, pekerjaan yang perlu diselesaikan, atau tanggung jawab yang nggak bisa begitu saja ditinggalkan. Lalu, bagaimana caranya tetap produktif tanpa memaksa diri untuk "baik-baik saja"? 1. Redefine What "Productive" Means Hal pertama yang perlu Puan perhatikan adalah definisi produktif itu sendiri. Produktif saat sedang berduka nggak melulu berarti menyelesaikan semua pekerjaan dalam satu hari. Karena ketika sedang berduka, kapasitas seseorang memang bisa berubah dari se...