Langsung ke konten utama

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Logika Waktu Pendek: Terlalu Cepat Menelan, Terlalu Malas Mencerna



Image by: pixabay/koranrb.id


Puan, kapan terakhir kali kamu menyelesaikan satu buku sampai tuntas? 

Atau duduk tenang tanpa mengecek HP tiap saat?

Di tengah dunia yang serba cepat ini, kita hidup dalam arus informasi yang nyaris tak pernah berhenti. Segala sesuatu dituntut instan, seperti makanan, layanan, bahkan pengetahuan. Hal ini turut memengaruhi cara kita mengonsumsi informasi. Masyarakat kini cenderung lebih menyukai konten yang singkat, cepat, dan mudah diakses. Dalam budaya digital semacam ini, muncul sebuah pola pikir yang dikenal sebagai logika waktu pendek, yakni kecenderungan untuk menghindari bacaan panjang dan mendalam karena otak telah terbiasa menerima informasi dalam potongan kecil yang cepat selesai.


Utas Twitter, fiksimini, Reels, TikTok, hingga YouTube Shorts, semua jadi cara baru kita mengonsumsi cerita dan informasi secara cepat. Di satu sisi, bentuk ini menyenangkan karena praktis dan mudah dikonsumsi. Namun di sisi lain, kebiasaan ini bisa membuat kita terbiasa bergerak cepat tanpa benar-benar memahami atau meresapi isi yang kita konsumsi, seperti berlari tanpa tahu ke mana arah tujuan.



Apa sih logika waktu pendek itu, Puan?

Logika waktu pendek adalah kebiasaan atau pola pikir manusia modern yang makin sulit bertahan dalam proses membaca panjang, berpikir dalam, atau menikmati sesuatu dengan perlahan.


Dosen media dan budaya digital, Siva Vaidhyanathan, menyebut bahwa media sosial telah membuat kita terus-menerus "siaga" dan jarang benar-benar hadir. Kita terbiasa melompat dari satu topik ke topik lain, dari satu cerita ke video berikutnya, semuanya dalam hitungan detik.



Dampaknya ke hidup kita apa aja, sih?


  1. Susah fokus, apalagi mikir panjang

Penelitian dari University of California menunjukkan bahwa konsumsi konten singkat secara terus-menerus bisa menurunkan kemampuan membaca yang mendalam. Kita jadi mudah teralihkan dan makin sulit fokus saat menghadapi tugas panjang atau materi yang butuh konsentrasi tinggi.


  1. Kelelahan mental dan FOMO

Kalau merasa gampang capek walau seharian “cuma scroll medsos”, itu bisa jadi tanda kalau otak Puan lagi kelelahan karena menyerap informasi. Belum lagi perasaan takut ketinggalan tren atau berita yang terus berubah tiap jam.


  1. Diskusi jadi dangkal

Karena terbiasa membaca singkat dan cepat, kita cenderung bereaksi spontan tanpa mencerna. Ini bisa berdampak ke cara kita berdiskusi di media sosial, seringnya jadi debat kusir atau salah paham.


  1. Proses kreatif jadi terburu-buru

Banyak kreator yang merasa tertekan untuk membuat karya yang langsung viral. Padahal, proses kreatif sejatinya butuh waktu, riset, dan ruang untuk berkembang.




Terus, harus gimana dong biar nggak terjebak, Priska?


Tenang, Puan. Kita bisa kok tetap hidup di dunia digital tanpa kehilangan kedalaman berpikir. Berikut beberapa tips sederhana yang bisa Puan coba:


  1. Latih fokus secara perlahan. Coba baca artikel panjang atau buku fisik 10 menit sehari. Lama-lama otak Puan akan terbiasa kembali.

  2. Tentukan batas waktu online. Misalnya, jangan buka medsos satu jam sebelum tidur atau pas bangun pagi.

  3. Pilih konsumsi yang berkualitas. Ikuti akun yang edukatif, inspiratif, dan memberi ruang refleksi, bukan sekadar hiburan cepat.

  4. Nikmati proses yang lambat. Menulis jurnal, melukis, atau sekadar duduk minum teh bisa jadi bentuk perlawanan kecil terhadap dunia yang serba cepat.

  5. Selalu ingat: nggak semua harus direspons sekarang. Puan berhak istirahat. Dunia nggak akan runtuh cuma karena Puan istirahat sebentar.


Di dunia yang terbiasa buru-buru, melambat itu bisa jadi bentuk keberanian.

Logika waktu pendek memang susah dihindari di zaman yang serba cepat ini. Tapi kita bisa kok memilih: terus ikut terbawa arus, atau sesekali berhenti sejenak. Karena justru di saat berhenti itulah kita benar-benar bisa mendengar, bukan cuma suara di luar, tapi juga suara dari dalam diri sendiri.




Referensi:

Haryatmoko. (2005, 13 Juli). Logika waktu pendek media. Kompas, hlm. 6, kol. 3–6.

Author & Editor:

Sarah Ardelia 


Komentar

Rubik Puan Popular

Soft Skill dan Hard Skill yang Wajib Dipelajari Untuk Bekal Penting Karir Impian!

Kenapa Kita Harus Belajar Skill Sebelum Masuk Dunia Kerja? Masuk dunia kerja itu beda banget dengan dunia kuliah, Puan. Kalau di kampus yang dinilai adalah tugas, maka di pekerjaan yang dinilai adalah output , attitude , kemampuan bekerja sama , dan keahlian yang bisa memberikan dampak nyata . Itulah kenapa “bekal” sebelum masuk dunia kerja itu penting, dan bekalnya bukan cuma ilmu teori, tapi juga soft skill dan hard skill . Menurut laporan dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2024), kandidat yang punya kombinasi soft skill dan hard skill yang kuat punya peluang lebih cepat diterima kerja dan lebih cepat naik posisi , lho! Apa Itu Hard Skill ? Hard skill adalah kemampuan teknis yang biasanya bisa diukur, dipelajari, dan diuji, contohnya: belajar software tertentu, kemampuan analisis data, atau membuat presentasi profesional. Hard skill biasanya dicantumkan dalam CV karena sifatnya jelas dan spesifik. Hard Skill yang Lagi Banyak Dicari Saat Ini: Microsoft Office ...

Teknik Tiga Skenario, Cara untuk Mengurangi Planning Fallacy

  Ilustrasi Perencanaan. Photo by cottonbro (Sumber:  Pexels.com ) Puan, pernah nggak sih bikin rencana dengan penuh keyakinan, tapi ujung-ujungnya molor, capek sendiri, atau malah nggak selesai? Tenang, Puan nggak sendirian. Bisa jadi Puan lagi kena planning fallacy . Apa itu Planning Fallacy ?  Planning fallacy adalah bias kognitif yang membuat kita cenderung terlalu optimis saat merencanakan sesuatu. Kita sering meremehkan waktu, tenaga, biaya, dan risiko, sambil meyakini semuanya akan berjalan lancar. Padahal, pengalaman sebelumnya sudah berkali-kali membuktikan: hidup jarang seideal rencana di kepala. Bias ini pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky lewat pengamatan sederhana dari rekan kerjanya yang sering salah memperkirakan durasi proyeknya sendiri. Meski pernah telat atau gagal sebelumnya, kita tetap merasa, “Kali ini pasti beda.” Inilah jebakan planning fallacy .  Teknik Tiga Skenario sebagai Alternatif Untuk mengurangi bias ini, P...

Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata

  Sumber:  istockphoto.com P uan, coba deh jujur, apakah Puan pernah merasa gugup waktu disuruh presentasi? Atau bingung harus gimana saat ada konflik di kelompok tugas? Padahal nilai Puan bagus, tugas selalu selesai tepat waktu, tapi kok tetap merasa kurang siap masuk dunia nyata? Nah, bisa jadi Puan belum banyak dapet bekal soft skill. Apa Sih Sebenarnya Soft Skill Itu? Soft skill itu bukan soal pintar matematika, jago coding, atau hapal teori. Soft skill adalah kemampuan yang berhubungan dengan cara kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita berpikir, berkomunikasi, dan mengelola diri sendiri dalam berbagai situasi. Bayangin deh, Puan kerja di sebuah tim. Tugasnya nggak terlalu sulit, tapi ternyata lebih susah kerja bareng orang yang beda gaya, beda opini, bahkan kadang nggak enakan. Nah, disinilah soft skill mulai terasa penting. Gimana cara menyampaikan ide dengan jelas, cara berkompromi, mendengar, dan menyelesaikan konflik, semua itu termasuk soft skill. B...

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Unlocking the It Girl Mindset: Rahasia Menjadi Versi Terbaik Dirimu

  Sumber: Pinterest Pernahkah Puan bertanya-tanya kenapa beberapa orang selalu terlihat mempesona, penuh percaya diri, dan memiliki aura yang membuat semua mata tertuju pada mereka? Apakah itu merupakan bawaan dari lahir atau ada rahasia di baliknya? Well , jawabannya hanya terletak pada satu hal, yaitu ‘ It Girl Mindset ’. Sebenarnya, apa sih ‘It Girl Mindset ’ itu? Yuk, simak pembahasannya pada artikel ini! Pengertian It Girl Mindset Melansir dari halaman Plum Healthy Fine , It Girl digambarkan sebagai perempuan yang memiliki percaya diri, modis, dan menjadi idaman bagi banyak orang. Mereka ini merupakan simbol dari kekuatan dan keanggunan dengan menjadi diri sendiri sebagai ciri khasnya. Seorang It Girl biasanya bangga untuk menjadi dirinya yang paling autentik. Oleh karena itu, banyak orang yang mengagumi mereka dan ingin menjadi seperti mereka. It Girl juga tidak bertindak dengan ragu-ragu, fokus pada tujuan serta pengembangan diri, dan tidak peduli dengan tanggapan buruk o...