Langsung ke konten utama

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...

Dukung Perempuan Muda Indonesia Di Bidang Sains dan Teknologi, Greenroof University Scholarship Resmi Launching


Yogyakarta, 9 April 2025 - Hoshizora Foundation secara resmi memperkenalkan program Greenrof Greenroof University Scholarship pada 9 April 2026 melalui berbagai platform sosial media. Program yang diinisasi oleh Green Roof Energy Indonesia, sebagai bagian dari CN Green Roof Asia, ini membuka kesempatan bagi perempuan muda di seluruh Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi di bidang sains dan teknologi. Pendaftaran dibuka mulai tanggal 9 April hingga 14 Juni 2026.


Greenroof University Scholarship 2026 merupakan program beasiswa jenjang perguruan tinggi yang diinisiasi oleh  Green Roof Energy Indonesia yang didukung oleh Climate Fund Managers, Norfunds, dan European Union. Menggandeng Hoshizora Foundation sebagai partner implementor beasiswa, program ini dirancang untuk membuka akses pendidikan bagi perempuan muda Indonesia yang memiliki motivasi tinggi dan prestasi akademik unggul, namun memiliki keterbatasan finansial. Harapannya, para perempuan ini dapat berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan, terutama di sektor energi terbarukan.

Greenroof Menyasar Jurusan Teknik di 3 Universitas di Indonesia

Greenroof University Scholarship secara khusus dibuka bagi siswi SMA/K sederajat yang diterima berkuliah di salah satu 3 universitas terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia(UI), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun akademik 2026/2027. 


Dengan tujuan menyasar bidang STEM, maka program beasiswa ini berfokus pada mahasiswa di 5 jurusan sebagai berikut:

  1. Teknik Elektro (Ketenagalistrikan)

  2. Teknik Fisika

  3. Teknik Lingkungan

  4. Teknik Industri

  5. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)


Greenroof Beri Dukungan Penuh Untuk Mahasiswa
Komitmen dalam memastikan penerima beasiswa bisa mendapatkan akses pendidikan yang layak selama masa perkuliahan, Greenroof University Scholarship memberikan dukungan berupa Uang Kuliah Tunggal (UKT), tunjangan biaya hidup, laptop, program pengembangan kapasitas dan mentoring, hingga bantuan biaya transportasi dan relokasi menuju ke lokasi studi. 


“Kami percaya bahwa setiap perempuan muda Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi agen perubahan dan juga role model bagi lingkungan sekitarnya. Melalui Green Roof University Scholarship, kami berharap dengan adanya program ini mereka tidak hanya mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga keberanian untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan. Semoga program ini menjadi langkah awal lahirnya generasi baru yang siap membawa energi terbarukan dan harapan bagi bangsa dan negara,”  ungkap Yudi Anwar selaku Executive Director Hoshizora Foundation.

Pendaftaran Greenroof University Scholarship dilakukan secara online melalui link
bit.ly/GreenroofScholarship2026 yang dibuka sejak 9 April hingga 14 Juni 2026. Setelah proses pendaftaran, Hoshizora Foundation akan melakukan beberapa tahapan seleksi mulai dari seleksi berkas dan esai, wawancara, hingga home visit.


Komentar

Rubik Puan Popular

80% Hasil Bisa Datang dari 20% Usaha. Kok Bisa?

  Puan pernah ngerasa nggak udah sibuk seharian, tapi ketika hari berakhir, masih berasa nggak banyak hal yang benar-benar bergerak maju? Tugas udah dikerjakan, notifikasi udah dibalas, jadwal penuh, tapi tujuan yang ingin dicapai rasanya masih jauh. Kalau pernah, mungkin masalahnya bukan karena Puan kurang kerja keras. Bisa jadi, Puan hanya belum memfokuskan energi pada hal yang paling berdampak.  Konsep ini dikenal sebagai Pareto Principle atau prinsip 80/20, sebuah gagasan yang diperkenalkan oleh ekonom Italia, Vilfredo Pareto. Secara sederhana, prinsip ini menjelaskan bahwa sekitar 80% hasil yang kita peroleh sering kali berasal dari 20% usaha atau aktivitas yang paling penting. Tentu saja angka 80 dan 20 bukan aturan yang mutlak. Namun, prinsip ini mengingatkan bahwa nggak semua hal memiliki pengaruh yang sama. Ada beberapa aktivitas yang memberi dampak jauh lebih besar dibandingkan yang lainnya. Baca Juga: Manajemen Waktu Gak Cuma Soal Jam, Tapi Energi Juga! Apa Artinya...

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

This is Adulting: Makin Sibuk, Makin Sendirian

  Photo by Damla Karaağaçlı Pernah nggak sih Puan liat jadwal mingguan terus ngerasa bakalan sibuk karena isinya penuh? Mulai dari jadwal meeting kerjaan, janji nongkrong bareng temen, kelas olahraga, sampai acara keluarga, pokoknya sibuk banget deh. Tapi anehnya, begitu ada satu malam yang free , nggak ada deadline atau janji sama siapa pun, Puan malah ngerasa sendirian. Suasana kamar yang tenang malah bikin rasa sepi muncul gitu aja. Kalau Puan pernah atau lagi ngerasain ini , welcome to adulting! Ternyata, jadwal yang padat itu nggak otomatis bikin kebutuhan emosional kita terpenuhi. Kok bisa gitu, ya? Baca Juga: Menata Diri di Tengah Hidup yang Ramai   Kejebak di Lingkungan yang Sibuk Saat jadwal kita padat, kita emang terus-menerus dikelilingi orang. Tapi coba deh diingat-ingat lagi, interaksinya kayak gimana? Pasti kebanyakan cuma interaksi praktis, cepat, atau sekadar bahas kerjaan, tugas, dan obrolan basa-basi aja. Interaksi kayak gitu emang seru dan menyenangkan, t...

2026 The New 2016: Apa itu Nostalgia?

(Gambar: Lemon 8) Apakah Puan saat ini familiar dengan pembahasan 2026 adalah  the new 2016 ?  Banyak orang yang kembali membahas trend yang beredar di tahun 2016 mulai dari fashion hingga aplikasi Tumblr. Istilah ini mengacu kepada budaya digital dan pop culture 2016 yang kembali populer di awal tahun 2026.  Puan mungkin bertanya-tanya, mengapa spesifik tren di 2016. Menurut Ibcomagazine, tren biasanya menjalankan sistem aturan 20 tahun sekali.Maksudnya adalah setiap 20 tahun sekali tren yang ada pada generasi sebelumnya akan muncul pada generasi baru. Contohnya seperti anak-anak di tahun 2000-an yang suka dengan gaya hidup ( lifestyle ) remaja di era tahun 80-han.  Tapi itu dulu. Dulu tren membutuhkan waktu 20 tahun untuk kembali. Sekarang? Peran media sosial memangkasnya menjadi 10 tahun jadinya kita memandang 2026 dan 2016 sebagai era yang berbeda, dan didorong rasa nostalgia kita semakin ingin kembali ke kehidupan dan lifestyle di 2016.  Selain itu, dilan...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...