“When Im mad from my perspective but I can also see their perspective, so now Im carrying double emotional weight and being eaten away by my anger and empathy”
Adakah Puan yang pernah merasa marah akan suatu keadaan, tetapi mencoba untuk mencari alasan lain untuk memahami permasalahan tersebut? Kalimat di atas adalah kalimat yang dapat menggambarkan situasi yang Puan alami.
Empathy Without Boundaries is a Self-destruction
Empati adalah sikap memahami seseorang baik secara emosional maupun kondisional. Berempati kepada seseorang memang hal yang baik karena dapat mengurangi risiko gangguan kecemasan. Namun, bagaimana jika berempati tidak memiliki batasan? Jika berempati secara berlebihan, Puan akan terus mencoba untuk memahami dan menyenangkan orang lain tanpa peduli apa yang sebenarnya Puan inginkan. Lama-lama, Puan akan mulai kehilangan kemampuan untuk berempati kepada diri sendiri.
Tindakan mengabaikan kebutuhan emosional Puan sendiri dan mencoba untuk selalu melihat sudut pandang lain adalah bentuk self-destruction karena Puan merendahkan diri sendiri dan mengubah diri untuk menyenangkan orang lain. Bukannya merasa lega, Puan akan mengalami kelelahan emosional dan kehilangan energi sampai Puan merasa tidak lagi memiliki ruang untuk diri Puan sendiri.
Baca juga: Gagal? Nggak Masalah! Waktunya Belajar Sayang Sama Diri Sendiri
Self-destruction Leads to Losing Self-respect
Ketika Puan sudah masuk pada self-destruction behavior, perlahan Puan akan kehilangan self-respect. Self-respect adalah sikap menghargai diri sendiri daripada orang lain agar lebih bahagia. Namun, dengan adanya self-destruction behavior dalam diri Puan, self-respect tidak dapat muncul ke permukaan emosional diri Puan. Ia akan makin terpendam dan akan terus terpendam jika Puan selalu mengedepankan orang lain daripada perasaan emosional maupun kondisional Puan sendiri.
How to Maintain Self-Respect Without Losing Empathy
Berempati memang hal yang baik, tetapi untuk dapat memiliki rasa empati yang baik Puan harus memiliki batasan antara diri Puan sendiri dan orang lain.
Lalu bagaimana untuk tetap menjaga self-respect tanpa kehilangan empati yang Puan miliki?
Tinjau kembali nilai-nilai dalam diri Puan: Nilai adalah keyakinan yang Puan miliki untuk apa yang Puan inginkan dan butuhkan dalam hidup.
Hidup dengan jujur: Jangan goyah dari nila-nilai yang telah Puan tetapkan, harus berani untuk berkata “tidak” ataupun bertindak untuk hal-hal di luar dari nilai hidup Puan.
Tracking nilai hidup: Tuangkan perasaan Puan dalam jurnal maupun notes kecil untuk melacak bagaimana Puan menjalani kehidupan dan dapat digunakan sebagai bahan evaluasi serta refleksi.
Empati bukan berarti Puan harus selalu peduli dan memahami orang lain, tetapi empati juga diperlukan untuk diri Puan sendiri agar lebih bahagia dan tidak merendah kepada orang lain karena diri Puan berharga dan patut untuk dikasihi oleh Puan sendiri. Yuk terapkan self-respect sebagai bentuk self-love.
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.

Komentar
Posting Komentar