Langsung ke konten utama

FOBO dalam Karier: Takut Salah Pilih atau Takut Kehilangan Pilihan Karier yang Lebih Baik?

Pict by: Monse Pernahkah Puan berada pada situasi harus memilih, seperti melanjutkan kerja atau studi, berpindah karier atau bertahan, mengambil peluang saat ini atau menunggu kesempatan yang lebih baik, tetapi justru semakin ragu? Alih-alih mengambil keputusan, Puan justru menunda hal tersebut, bukan karena tidak memiliki pilihan, melainkan karena terlalu banyaknya pilihan yang dihadapkan oleh Puan. Kondisi ini dapat dikenal sebagai FOBO (Fear of Better Options) dalam karier.  Apa Itu FOBO? FOBO (Fear of Better Options) merupakan kondisi ketika seseorang kesulitan mengambilkeputusan karena khawatir terdapat pilihan lain yang lebih baik diluar sana. Istilah ini diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis, yang menjelaskan bahwa individu dengan FOBO cenderung empertahankan semua opsi agar tetap terbuka. Secara psikologis, FOBO berkaitan dengan kecenderungan maximizing , yaitu dorongan untuk selalu mendapatkan hasil terbaik, bukan sekadar hasil yang memadai.  Penelitian oleh Sheena...

FOBO dalam Karier: Takut Salah Pilih atau Takut Kehilangan Pilihan Karier yang Lebih Baik?


Pict by: Monse

Pernahkah Puan berada pada situasi harus memilih, seperti melanjutkan kerja atau studi, berpindah karier atau bertahan, mengambil peluang saat ini atau menunggu kesempatan yang lebih baik, tetapi justru semakin ragu?

Alih-alih mengambil keputusan, Puan justru menunda hal tersebut, bukan karena tidak memiliki pilihan, melainkan karena terlalu banyaknya pilihan yang dihadapkan oleh Puan. Kondisi ini dapat dikenal sebagai FOBO (Fear of Better Options) dalam karier. 

Apa Itu FOBO?

FOBO (Fear of Better Options) merupakan kondisi ketika seseorang kesulitan mengambilkeputusan karena khawatir terdapat pilihan lain yang lebih baik diluar sana. Istilah ini diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis, yang menjelaskan bahwa individu dengan FOBO cenderung empertahankan semua opsi agar tetap terbuka. Secara psikologis, FOBO berkaitan dengan kecenderungan maximizing, yaitu dorongan untuk selalu mendapatkan hasil terbaik, bukan sekadar hasil yang memadai. 

Penelitian oleh Sheena S. Iyengar dan Mark R. Lepper (2000) menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan justru dapat menurunkan kepuasan dan memperlambat pengambilan keputusan. Selain itu, Barry Schwartz (2004) menjelaskan bahwa banyaknya pilihan dapat memicu kecemasan karena individu terus membandingkan keputusan yang diambil dengan alternatif lain.

Mengapa FOBO Semakin Umum Terjadi?

Dalam konteks saat ini, pilihan karier semakin beragam dan tidak lagi bersifat linear. Faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah sebagai berikut: 

  1. Banyaknya opsis karier dan jalur pengembangan diri.

  2. Paparan media sosial yang menampilkan berbagai pencapaian.

  3. Tekanan untuk mengambil keputusan yang dianggap paling tepat.

  4. Kekhawatiran kehilangan peluang yang lebih baik.

Akibatnya, muncul keraguan berkepanjangan yang menghambat pengambilan keputusan.

Tanda-Tanda FOBO

Beberapa indikasi yang dapat dikenali antar lain:

  1. Terlalu lama mempertimbangkan keputusan.

  2. Menunda keputusan tanpa batas waktu yang jelas.

  3. Kesulitan  berkomitmen pada satu pilihan.

  4. Tetap merasa ragu setelah mengambil keputusan.

  5. Terus membandingkan pilihan yang diambil dengan alternatif lain.

Upaya Mengatasi FOBO

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menerima bahwa tidak ada pilihan yang sempurna

  2. Mengubah standar dari terbaik menjadi cukup baik

  3. Menetapkan batas waktu dalam pengambilan keputusan

  4. Berfokus pada tujuan, bukan sekadar pilihan

  5. Berani berkomitmen terhadap keputusan yang telah diambil

Baca Juga: 

https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/sering-blank-saat-presentasi-yuk-kenali.html 

FOBO dalam karier dapat memberikan ilusi rasa aman karena semua pilihan masih terbuka. Namun, kondisi ini justru berpotensi menghambat perkembangan individu. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengambil keputusan secara tepat waktu menjadi keterampilan penting dalam menghadapi dinamika dunia kerja saat ini.

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.

Penulis & Editor: Lilian Deha

Referensi

Iyengar, S. S., & Lepper, M. R. (2000). When choice is demotivating: Can one desire too much of a good thing? Journal of Personality and Social Psychology, 79(6), 995–1006. 

Schwartz, B. (2004). The paradox of choice: Why more is less. New York, NY: Harper Perennial.

Gigerenzer, G., & Todd, P. M. (1999). Simple heuristics that make us smart. New York, NY: Oxford University Press.

Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under uncertainty: Heuristics and biases. Science, 185(4157), 1124–1131. 

Simon, H. A. (1955). A behavioral model of rational choice. The Quarterly

Komentar

Rubik Puan Popular

Friendship Break-Up: Putus dalam Hubungan Pertemanan!

Puan pasti sering denger atau ngalamin yang namanya putus cinta. Perihal putus cinta biasanya berkaitan dengan pasangan atau pacar, tapi pernah nggak sih Puan ngalamin atau tahu kalau hubungan pertemanan juga bisa kandas? Hal ini diberi istilah “Friendship Break Up” .  Gimana Sih Hubungan Pertemanan Itu? Sama kayak pasangan dan keluarga,  percaya nggak sih kalau hubungan pertemanan juga membawa sisi emosional?  Kita bisa berkembang di lingkungan tertentu karena pengaruh dari orang-orang yang ada disekitar termasuk teman.  Menurut Kaitlyn Flannery salah satu profesor psikologi dari State University of New York College, sebagai makhluk sosial kita menginginkan validasi selain dari lingkungan rumah yang berasal dari  individu lain yang seumuran dengan diri kita, makanya hubungan pertemanan bisa  menjadi sumber dukungan sosial maupun emosional .  Kita menjalin hubungan persahabatan dengan teman pasti kita akan diajak untuk mengenali satu sama lain. Mulai d...

Sering Blank Saat Presentasi? Yuk, Kenali Gangguan Stage Fright!

  Ilustrasi Seseorang yang mengalami stage fright. (i nfinumgrowth.com ) Pernah nggak, Puan udah nyiapin materi presentasi lengkap, tapi begitu berdiri di depan banyak orang, tiba-tiba pikiran mendadak blank? Jantung berdegup kencang kayak habis lari maraton, tangan berkeringat dingin, bahkan suara mendadak jadi cempreng atau gemetar. Kalau pernah, berarti Puan sedang mengalami apa yang disebut stage fright alias demam panggung. Tenang kok, Puan nggak sendirian. Bahkan artis papan atas atau pembicara profesional pun sering ngerasain. Bedanya, mereka udah tau cara "berdamai" dengan rasa gugup tersebut. Yuk, Priska bahas kenapa ini bisa terjadi dan gimana cara menaklukkannya! Baca juga: Cara Membangun Kepercayaan Diri untuk Tumbuh dan Berkembang, Puan! Secara ilmiah, demam panggung adalah respon alami tubuh yang disebut fight-or-flight . Otak Puan, khususnya bagian amigdala, mendeteksi "ancaman". Masalahnya, otak kadang nggak bisa membedakan antara ancaman dikejar h...

Backhanded Compliment: Pujian Palsu Menusuk dari Belakang

  Ilustrasi oleh brightside.me Siapa sih di sini yang tidak senang kalau mendapatkan pujian dari orang-orang sekitarnya atau mungkin orang terdekat mereka? Tentu sudah pasti senang, dong. Namun, pernah nggak sih, Puan mendengar kalimat pujian yang ternyata bukanlah kalimat pujian alias merupakan sindiran yang dikemas dalam bahasa halus? Nah, hal ini disebut pula sebagai backhanded compliment. Apa itu Backhanded Compliment? Backhanded compliment merupakan kalimat yang awalnya adalah mengangkat, tetapi ujungnya membanting. Tujuan dari pujian palsu ini adalah untuk menyindir dengan cara yang halus. Biasanya, mereka yang terkena backhanded compliment tidak selalu merasakan adanya siratan sindiran pada pujian halus ini. Mengapa begitu? hal ini dikarenakan backhanded compliment atau ‘ateisme’ ini memiliki perbedaan dengan sarkasme, dimana umumnya sarkasme bentuk menyindir yang kasar. Nah, kira-kira seperti apakah kalimat backhanded compliment ini? “Selamat, ya! Enggak nyangka kamu bak...

Tanpa Validasi Sana-Sini, 'Be of Service' Ternyata Kunci Pede yang Paling Slay!

Image by: Roxie Nafousi Pernah nggak sih, Puan ngerasa insecure gara-gara kelamaan scrolling TikTok? Lihat si A glow up maksimal, si B punya bisnis sendiri, sementara kita? Masih sibuk berantem sama jerawat atau pusing mikirin tugas kuliah yang nggak habis-habis. Rasanya pengen banget punya rasa pede buat tampil atau mulai sesuatu, tapi kok susah ya?  Baca juga: https://puanbisa.blogspot.com/2025/10/cara-membangun-kepercayaan-diri-untuk.html   Nah, kalau Puan terus-terusan fokus pada diri sendiri, ending -nya malah makin insecure karena manusia cenderung lebih mampu melihat kekurangannya sendiri dibanding kelebihannya. Menurut buku Confidence karya manifesting queen Roxie Nafousi, rahasia buat tampil pede itu justru adalah dengan mengalihkan fokus kita keluar, yaitu dengan membantu orang lain. Iya, Roxie bilang salah satu cara paling ampuh buat bangun rasa pede adalah dengan being of service alias jadi sosok yang bermanfaat buat orang lain. Kedengarannya berat ya, Puan? Pa...

Bukan hanya Skill, Networking juga Penting untuk Bangun Karier

  Photo by Pixabay Sekarang ini, mencari pekerjaan itu tantangannya makin besar. Kita sering dengar bahwa kalau mau dapat kerja yang bagus itu harus punya "orang dalam." Nah, sebenarnya, orang dalam tidak selalu tentang kecurangan atau nepotisme. Bisa jadi, itu adalah pengaruh koneksi atau networking yang positif. Sayangnya, banyak dari kita merasa canggung atau bingung harus mulai bangun relasi dari mana. Padahal, menguasai skill networking ini sama pentingnya dengan mengasah skill teknis Puan, lho .   Apa sih networking dalam dunia kerja itu? Puan, di dunia kerja, networking adalah menjalin hubungan dengan orang-orang yang punya minat profesional yang sama dengan kita, atau mereka yang punya power buat memengaruhi career path kita. Networking berarti kita harus aktif bangun interaksi dengan orang lain, untuk saling tukar ilmu, dapat sudut pandang baru, dan jalin relasi yang siapa tahu nantinya bisa jadi jalan buat dapat peluang kerja. Akan tetapi, sepenting itukah netwo...