Langsung ke konten utama

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

FOBO dalam Karier: Takut Salah Pilih atau Takut Kehilangan Pilihan Karier yang Lebih Baik?


Pict by: Monse

Pernahkah Puan berada pada situasi harus memilih, seperti melanjutkan kerja atau studi, berpindah karier atau bertahan, mengambil peluang saat ini atau menunggu kesempatan yang lebih baik, tetapi justru semakin ragu?

Alih-alih mengambil keputusan, Puan justru menunda hal tersebut, bukan karena tidak memiliki pilihan, melainkan karena terlalu banyaknya pilihan yang dihadapkan oleh Puan. Kondisi ini dapat dikenal sebagai FOBO (Fear of Better Options) dalam karier. 

Apa Itu FOBO?

FOBO (Fear of Better Options) merupakan kondisi ketika seseorang kesulitan mengambilkeputusan karena khawatir terdapat pilihan lain yang lebih baik diluar sana. Istilah ini diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis, yang menjelaskan bahwa individu dengan FOBO cenderung empertahankan semua opsi agar tetap terbuka. Secara psikologis, FOBO berkaitan dengan kecenderungan maximizing, yaitu dorongan untuk selalu mendapatkan hasil terbaik, bukan sekadar hasil yang memadai. 

Penelitian oleh Sheena S. Iyengar dan Mark R. Lepper (2000) menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan justru dapat menurunkan kepuasan dan memperlambat pengambilan keputusan. Selain itu, Barry Schwartz (2004) menjelaskan bahwa banyaknya pilihan dapat memicu kecemasan karena individu terus membandingkan keputusan yang diambil dengan alternatif lain.

Mengapa FOBO Semakin Umum Terjadi?

Dalam konteks saat ini, pilihan karier semakin beragam dan tidak lagi bersifat linear. Faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah sebagai berikut: 

  1. Banyaknya opsis karier dan jalur pengembangan diri.

  2. Paparan media sosial yang menampilkan berbagai pencapaian.

  3. Tekanan untuk mengambil keputusan yang dianggap paling tepat.

  4. Kekhawatiran kehilangan peluang yang lebih baik.

Akibatnya, muncul keraguan berkepanjangan yang menghambat pengambilan keputusan.

Tanda-Tanda FOBO

Beberapa indikasi yang dapat dikenali antar lain:

  1. Terlalu lama mempertimbangkan keputusan.

  2. Menunda keputusan tanpa batas waktu yang jelas.

  3. Kesulitan  berkomitmen pada satu pilihan.

  4. Tetap merasa ragu setelah mengambil keputusan.

  5. Terus membandingkan pilihan yang diambil dengan alternatif lain.

Upaya Mengatasi FOBO

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menerima bahwa tidak ada pilihan yang sempurna

  2. Mengubah standar dari terbaik menjadi cukup baik

  3. Menetapkan batas waktu dalam pengambilan keputusan

  4. Berfokus pada tujuan, bukan sekadar pilihan

  5. Berani berkomitmen terhadap keputusan yang telah diambil

Baca Juga: 

https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/sering-blank-saat-presentasi-yuk-kenali.html 

FOBO dalam karier dapat memberikan ilusi rasa aman karena semua pilihan masih terbuka. Namun, kondisi ini justru berpotensi menghambat perkembangan individu. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengambil keputusan secara tepat waktu menjadi keterampilan penting dalam menghadapi dinamika dunia kerja saat ini.

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.

Penulis & Editor: Lilian Deha

Referensi

Iyengar, S. S., & Lepper, M. R. (2000). When choice is demotivating: Can one desire too much of a good thing? Journal of Personality and Social Psychology, 79(6), 995–1006. 

Schwartz, B. (2004). The paradox of choice: Why more is less. New York, NY: Harper Perennial.

Gigerenzer, G., & Todd, P. M. (1999). Simple heuristics that make us smart. New York, NY: Oxford University Press.

Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under uncertainty: Heuristics and biases. Science, 185(4157), 1124–1131. 

Simon, H. A. (1955). A behavioral model of rational choice. The Quarterly

Komentar

Rubik Puan Popular

“I Wish I Knew When I Was 20” Memahami Hidup Mulai dari Usia 20 Tahun

  Buku "What I Wish I Knew When I Was 20" karya Prof. Tina Seelig (Amazon.com) Menginjak usia 20 terlihat menyenangkan karena Puan telah memiliki kebebasan atas diri sendiri. Di usia muda, tubuh Puan masih bertenaga maksimal dan optimal, pikiran masih fresh , ide-ide yang dikeluarkan masih up to date , intinya Puan lagi ada di masa-masa emas untuk mengembangkan suatu hal. Namun, yang jarang terlihat adalah masa saat Puan merasa clueless akan hidup Puan sendiri untuk memutuskan karir dan perjalanan hidup Puan ke depannya. Baca juga: Motivasi Bukan Ditunggu, tapi Dicari Lewat Aksi Lalu, apa saja sebenarnya hal yang harus dipahami untuk menjalani hidup saat menginjak usia 20 tahun? Mengutip dari buku “What I Wish I Knew When I Was 20” karya Prof. Tina Seelig ada beberapa hal yang dapat Puan lakukan: Jangan Menunggu, Tapi Ciptakan! Seringkali Puan berpikir untuk menunggu kesempatan datang, menunggu orang lain yang membukanya, menunggu offering yang datang. Padahal, Puan bisa men...

Decision Fatigue: Kenapa Memilih Menu Makan Malam Bisa Terasa Sangat Berat?

  Ilustrasi seseorang yang mengalami decision fatigue (brainfacts.org) Pernah nggak, Puan ngerasa kalau semakin sore, Puan jadi semakin ceroboh atau malah makin nggak bisa milih sesuatu? Puan sanggup menyelesaikan revisi tugas yang sulit di pagi hari, tapi begitu malam tiba, memilih film di Netflix saja butuh waktu satu jam dan berakhir nggak jadi nonton apa-apa karena bingung. Fenomena ini dikenal sebagai decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. Sederhananya, otak Puan memiliki kapasitas terbatas untuk membuat pilihan setiap hari. Setiap keputusan yang diambil, mulai dari memilih pakaian, menentukan menu sarapan, memilih rute perjalanan, hingga membalas pesan penting, sedikit demi sedikit menguras energi mental Puan sendiri. Kenapa Fenomena Ini Bisa Terjadi? Ibaratnya, otak Puan seperti baterai HP. Setiap pilihan yang Puan buat, sekecil apa pun, memakan daya baterai tersebut. Masalahnya, pendidikan sampai pekerjaan memaksa Puan mengambil ribuan keputusan kecil setiap ...

Hasty Generalization: Kesalahan Berpikir yang Sering Kita Lakukan

Image by: Grammarly.com Pernahkah Puan langsung bilang "Semua produk merek ini jelek," cuma gara-gara beli satu barang yang rusak? Atau mungkin Puan pernah denger temen cerita, "Nggak usah ke resto itu deh, pelayanannya buruk banget!" Padahal dia cuma sekali ke sana? Nah, ini dia yang namanya hasty generalization atau kesimpulan terburu-buru. Apa Sih Hasty Generalization Itu? Menurut Detik.com , Hasty Generalization adalah kekeliruan yang terjadi ketika seseorang menarik kesimpulan yang luas berdasarkan bukti yang tidak mampu atau tidak cukup. Dengan kata lain, kesimpulan tentang suatu hal terlalu terburu-buru diambil dan hanya didukung beberapa atau tidak cukup bukti yang jelas. Jadi, Hasty generalization adalah kesalahan logika yang terjadi ketika Puan mengambil kesimpulan umum dari sampel yang terlalu kecil atau tidak cukup mewakili. Bayangin gini, Puan cuma ketemu dua kucing yang galak, terus langsung bilang, "semua kucing itu galak!" Padahal di lu...

Perempuan dan Overachievement Trap: Sisi Lain Produktivitas

  Pict by: Bustle.com Pernahkah Puan merasa sudah berusaha dengan maksimal, tetapi merasa performa yang ditampilkan kurang ataupun berusaha untuk mengejar ekspektasi agar bisa selalu dihargai?  Alih-alih merasa puas, Puan justru terus mendorong diri untuk melakukan hal-hal diluar batas diri Puan. Hal ini bukan karena tuntutan yang sudah jelas ada, melainkan ada dorongan untuk selalu memenuhi ekspektasi, baik diri sendiri maupun orang lain. Jika kondisi ini terasa familiar, bisa jadi Puan sedang berada dalam overachievement trap. Apa Itu Overachievement Trap ? Overachievement trap merupakan kondisi ketika seseorang terus berusaha mencapai level yang lebih tinggi, bukan karena kebutuhannya, melainkan merasa dirinya sebagai perempuan belum cukup layak dan dihargai oleh sekitar. Secara psikologis, kondisi ini berkaitan dengan perfeksionisme, terutama dipengaruhi oleh tekanan sosial.  Paul L. Hewitt dan Gordon L. Flett menjelaskan bahwa perfeksionisme yang berorientasi pada t...

Mengubah Pikiran Negatif Menjadi Positif: Membangun Mindset Penuh Keyakinan dan Optimisme

Apakah Puan sering merasa terjebak dalam pikiran negatif yang menghalangi Puan meraih potensi dan kebahagiaan? Jika iya, maka Puan berada di tempat yang tepat. Artikel ini akan membahas cara mengubah pikiran negatif menjadi positif dengan membangun mindset yang penuh keyakinan dan optimisme. Mindset, atau pola pikir, merupakan pondasi penting dalam menjalani kehidupan yang sukses dan membangun kebahagiaan. Pikiran negatif seperti keraguan, rasa tidak berharga, dan kecemasan dapat merusak mindset Puan dan menghalangi Puan mencapai potensi terbaik.  Namun, Puan tidak perlu putus asa. Ada beberapa langkah praktis yang dapat Puan lakukan untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif: Kesadaran akan pikiran negatif: Puan perlu mengenali dan menyadari pola pikir negatif yang muncul dalam diri Puan. Coba identifikasi pikiran-pikiran tersebut dan berikan pengertian bahwa Puan memiliki kendali atas pikiran-pikiran itu. Reframing: Saat Puan menghadapi pikiran negatif, coba ubah perspektif...