Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

FOBO dalam Karier: Takut Salah Pilih atau Takut Kehilangan Pilihan Karier yang Lebih Baik?


Pict by: Monse

Pernahkah Puan berada pada situasi harus memilih, seperti melanjutkan kerja atau studi, berpindah karier atau bertahan, mengambil peluang saat ini atau menunggu kesempatan yang lebih baik, tetapi justru semakin ragu?

Alih-alih mengambil keputusan, Puan justru menunda hal tersebut, bukan karena tidak memiliki pilihan, melainkan karena terlalu banyaknya pilihan yang dihadapkan oleh Puan. Kondisi ini dapat dikenal sebagai FOBO (Fear of Better Options) dalam karier. 

Apa Itu FOBO?

FOBO (Fear of Better Options) merupakan kondisi ketika seseorang kesulitan mengambilkeputusan karena khawatir terdapat pilihan lain yang lebih baik diluar sana. Istilah ini diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis, yang menjelaskan bahwa individu dengan FOBO cenderung empertahankan semua opsi agar tetap terbuka. Secara psikologis, FOBO berkaitan dengan kecenderungan maximizing, yaitu dorongan untuk selalu mendapatkan hasil terbaik, bukan sekadar hasil yang memadai. 

Penelitian oleh Sheena S. Iyengar dan Mark R. Lepper (2000) menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan justru dapat menurunkan kepuasan dan memperlambat pengambilan keputusan. Selain itu, Barry Schwartz (2004) menjelaskan bahwa banyaknya pilihan dapat memicu kecemasan karena individu terus membandingkan keputusan yang diambil dengan alternatif lain.

Mengapa FOBO Semakin Umum Terjadi?

Dalam konteks saat ini, pilihan karier semakin beragam dan tidak lagi bersifat linear. Faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah sebagai berikut: 

  1. Banyaknya opsis karier dan jalur pengembangan diri.

  2. Paparan media sosial yang menampilkan berbagai pencapaian.

  3. Tekanan untuk mengambil keputusan yang dianggap paling tepat.

  4. Kekhawatiran kehilangan peluang yang lebih baik.

Akibatnya, muncul keraguan berkepanjangan yang menghambat pengambilan keputusan.

Tanda-Tanda FOBO

Beberapa indikasi yang dapat dikenali antar lain:

  1. Terlalu lama mempertimbangkan keputusan.

  2. Menunda keputusan tanpa batas waktu yang jelas.

  3. Kesulitan  berkomitmen pada satu pilihan.

  4. Tetap merasa ragu setelah mengambil keputusan.

  5. Terus membandingkan pilihan yang diambil dengan alternatif lain.

Upaya Mengatasi FOBO

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menerima bahwa tidak ada pilihan yang sempurna

  2. Mengubah standar dari terbaik menjadi cukup baik

  3. Menetapkan batas waktu dalam pengambilan keputusan

  4. Berfokus pada tujuan, bukan sekadar pilihan

  5. Berani berkomitmen terhadap keputusan yang telah diambil

Baca Juga: 

https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/sering-blank-saat-presentasi-yuk-kenali.html 

FOBO dalam karier dapat memberikan ilusi rasa aman karena semua pilihan masih terbuka. Namun, kondisi ini justru berpotensi menghambat perkembangan individu. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengambil keputusan secara tepat waktu menjadi keterampilan penting dalam menghadapi dinamika dunia kerja saat ini.

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.

Penulis & Editor: Lilian Deha

Referensi

Iyengar, S. S., & Lepper, M. R. (2000). When choice is demotivating: Can one desire too much of a good thing? Journal of Personality and Social Psychology, 79(6), 995–1006. 

Schwartz, B. (2004). The paradox of choice: Why more is less. New York, NY: Harper Perennial.

Gigerenzer, G., & Todd, P. M. (1999). Simple heuristics that make us smart. New York, NY: Oxford University Press.

Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under uncertainty: Heuristics and biases. Science, 185(4157), 1124–1131. 

Simon, H. A. (1955). A behavioral model of rational choice. The Quarterly

Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Let Them Theory: Berhenti Mengejar yang Tidak Meimilih Puan

Image by: KPU KAB-NDUGA  Puan pernah nggak sih merasa sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan seseorang, tapi tetap saja hasilnya mengecewakan? Atau Puan terus memikirkan sikap orang lain, mencoba memahami, bahkan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya di luar kendali? Perasaan seperti ini sering membuat Puan lelah tanpa disadari, karena terlalu fokus pada hal yang tidak bisa diatur. Di sinilah The Let Them Theory mulai terasa relevan. Konsep ini memperkenalkan cara pandang sederhana, bahwa tidak semua hal perlu diperjuangkan mati-matian, terutama jika itu melibatkan kehendak orang lain. Baca Juga:  https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/be-of-service-ternyata-kunci-pede.html Apa sih Let Them Theory itu? Sering kali, tanpa disadari, Puan menghabiskan banyak energi untuk mencoba memahami, memperbaiki, atau bahkan mengendalikan orang lain. Padahal, tidak semua hal memang berada dalam kendali Puan. Konsep “ let them ” pada dasarnya mengajak Puan untuk be...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...