Pict by: Monse
Pernahkah Puan berada pada situasi harus memilih, seperti melanjutkan kerja atau studi, berpindah karier atau bertahan, mengambil peluang saat ini atau menunggu kesempatan yang lebih baik, tetapi justru semakin ragu?
Alih-alih mengambil keputusan, Puan justru menunda hal tersebut, bukan karena tidak memiliki pilihan, melainkan karena terlalu banyaknya pilihan yang dihadapkan oleh Puan. Kondisi ini dapat dikenal sebagai FOBO (Fear of Better Options) dalam karier.
Apa Itu FOBO?
FOBO (Fear of Better Options) merupakan kondisi ketika seseorang kesulitan mengambilkeputusan karena khawatir terdapat pilihan lain yang lebih baik diluar sana. Istilah ini diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis, yang menjelaskan bahwa individu dengan FOBO cenderung empertahankan semua opsi agar tetap terbuka. Secara psikologis, FOBO berkaitan dengan kecenderungan maximizing, yaitu dorongan untuk selalu mendapatkan hasil terbaik, bukan sekadar hasil yang memadai.
Penelitian oleh Sheena S. Iyengar dan Mark R. Lepper (2000) menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan justru dapat menurunkan kepuasan dan memperlambat pengambilan keputusan. Selain itu, Barry Schwartz (2004) menjelaskan bahwa banyaknya pilihan dapat memicu kecemasan karena individu terus membandingkan keputusan yang diambil dengan alternatif lain.
Mengapa FOBO Semakin Umum Terjadi?
Dalam konteks saat ini, pilihan karier semakin beragam dan tidak lagi bersifat linear. Faktor yang dapat memengaruhi kondisi tersebut adalah sebagai berikut:
Banyaknya opsis karier dan jalur pengembangan diri.
Paparan media sosial yang menampilkan berbagai pencapaian.
Tekanan untuk mengambil keputusan yang dianggap paling tepat.
Kekhawatiran kehilangan peluang yang lebih baik.
Akibatnya, muncul keraguan berkepanjangan yang menghambat pengambilan keputusan.
Tanda-Tanda FOBO
Beberapa indikasi yang dapat dikenali antar lain:
Terlalu lama mempertimbangkan keputusan.
Menunda keputusan tanpa batas waktu yang jelas.
Kesulitan berkomitmen pada satu pilihan.
Tetap merasa ragu setelah mengambil keputusan.
Terus membandingkan pilihan yang diambil dengan alternatif lain.
Upaya Mengatasi FOBO
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Menerima bahwa tidak ada pilihan yang sempurna
Mengubah standar dari terbaik menjadi cukup baik
Menetapkan batas waktu dalam pengambilan keputusan
Berfokus pada tujuan, bukan sekadar pilihan
Berani berkomitmen terhadap keputusan yang telah diambil
Baca Juga:
https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/sering-blank-saat-presentasi-yuk-kenali.html
FOBO dalam karier dapat memberikan ilusi rasa aman karena semua pilihan masih terbuka. Namun, kondisi ini justru berpotensi menghambat perkembangan individu. Oleh karena itu, kemampuan untuk mengambil keputusan secara tepat waktu menjadi keterampilan penting dalam menghadapi dinamika dunia kerja saat ini.
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya.
Iyengar, S. S., & Lepper, M. R. (2000). When choice is demotivating: Can one desire too much of a good thing? Journal of Personality and Social Psychology, 79(6), 995–1006.
Schwartz, B. (2004). The paradox of choice: Why more is less. New York, NY: Harper Perennial.
Gigerenzer, G., & Todd, P. M. (1999). Simple heuristics that make us smart. New York, NY: Oxford University Press.
Tversky, A., & Kahneman, D. (1974). Judgment under uncertainty: Heuristics and biases. Science, 185(4157), 1124–1131.
Simon, H. A. (1955). A behavioral model of rational choice. The Quarterly
Komentar
Posting Komentar