Langsung ke konten utama

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time


Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited, tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special?

Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa.

Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang. 

Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?” 

1. Stop Trying to Become Your Old Self

Ketika merasa kehilangan spark, kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus mengembalikan diri Puan yang dulu persis seperti sebelumnya. Mungkin sekarang Puan punya ketertarikan yang berbeda. Mungkin hal yang dulu membuat Puan bahagia sudah nggak terasa sama. And that’s okay, you don’t have to go back. You can grow into someone new.

2. Start With the Little Things

Kadang kita berpikir menemukan spark berarti harus menemukan passion yang besar. Harus punya hobi baru. Harus menemukan tujuan hidup. Harus tahu mau menjadi apa lima tahun kedepan. Padahal, nggak harus seperti itu. Coba mulai dengan pertanyaan sederhana “apa hal kecil yang akhir-akhir ini membuat Puan merasa sedikit lebih baik?” Mungkin mendengarkan lagu , membaca buku, journaling, jalan sore, menggambar, menonton, masak atau mungkin ngobrol sama teman. Sometimes, finding your spark starts with simply finding one thing you still enjoy.

3. Spend Time With People Who Make You Feel Like Yourself

Terkadang, kita bisa menemukan kembali bagian diri kita melalui orang lain. Bukan karena mereka menyelesaikan masalah kita, tetapi karena bersama mereka kita nggak perlu terlalu sibuk memikirkan bagaimana seharusnya kita bersikap. Karena mungkin yang Puan butuhkan bukan nasihat panjang tentang bagaimana menjalani hidup, tetapi a safe place to simply be yourself.

Your Spark Might Not Be Gone

Pada akhirnya, mungkin yang Puan cari selama ini bukanlah spark yang sama seperti dulu. Bukan lagi rasa excited yang meletup-letup. Bisa jadi hanya rasa penasaran terhadap satu buku. Keinginan untuk mencoba tempat baru, atau sekadar satu momen ketika Puan berpikir, “Oh, I actually enjoy this.” And maybe, that’s where it starts. You just have to leave a little room for yourself to feel curious again. Mungkin spark Puan nggak pernah benar-benar hilang maybe it was just quiet for a while.

Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karir, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan tanggal 1 Oktober 2020 sampai saat ini, Puan Bisa aktif melakukan kegiatan kreatif dan edukatif yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran perempuan muda (khususnya usia 16-23 tahun) dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta akan dirinya. 

Referensi

Wordleftunsaid. (20206, Agustus 4). I Lost My Spark But I’m Still Here. Substack. https://4yudyaa.substack.com/p/i-lost-my-spark-but-im-still-here?r=8z4vvb&utm_campaign=post-expanded-share&utm_medium=post%20viewer 


Author & Editor: Faisha Aulia Hanafi

Komentar

  1. Oh wow artikel nya bikin pikiran lebih terbuka dan terasa fresh aja terima kasih ya faisha

    BalasHapus

Posting Komentar

Rubik Puan Popular

Raih Motivasi dan Kenikmatan Kerja: Mengatasi Rasa Jenuh dengan Tips-Tips Menarik!

Hey, Puan! Pernah nggak sih kamu merasa seperti waktu berjalan terlalu lambat saat melakukan pekerjaanmu? Yah, rasa bosan memang suatu hal yang bisa membuat kita bingung, apakah harus melanjutkannya atau berhenti saja. Tapi tahu nggak, terlalu memikirkannya justru bisa membuat pekerjaan kita nggak maksimal. Jangan khawatir, Puan! Rasanya jenuh saat bekerja itu wajar. Bayangkan aja, melakukan hal yang sama tiap harinya pasti bisa membuat rasa jenuh datang. Nah, biar Puan nggak bingung lagi menghadapi rasa jenuh yang kadang datang, simak deh tips-tips menarik berikut ini! Yuk, kita mulai dengan langkah awal untuk mengatasi rasa jenuh saat bekerja: 1. Ingat tujuan awalmu saat memulai pekerjaan ini Ketika Puan mengingat kembali tujuan awal yang mendorongmu memulai pekerjaan ini, ada kemungkinan besar semangat dan motivasi akan kembali menggelora. Hal ini pastinya akan mengurangi rasa jenuh saat Puan menjalankan tugas-tugasmu. 2. Berikan waktu untuk dirimu sendiri, coba ambil cuti liburan! ...

Mindfulness 101: Finding Your Focus in a World Full of Distractions

  sumber: magnific.com Puan pernah ngalamin nggak, lagi ngerjain tugas, terus ada satu notifikasi masuk, kemudian cek notifnya, balas satu chat, eh lanjut buka TikTok dan akhirnya lupa kalau tadi sebenarnya Puan lagi ngapain? Di tengah dunia yang full of distractions ini, perhatian kita rasanya gampang banget berpindah dari satu hal ke hal lainnya. Belum selesai satu informasi, sudah muncul informasi baru. Belum selesai proses berita satu, sudah ada berita lainnya. Tanpa sadar, kita bisa menghabiskan banyak waktu dengan gadget tanpa benar-benar sadar sedang melakukan apa. Di sinilah mindfulness bisa menjadi salah satu cara untuk membantu Puan lebih sadar terhadap bagaimana Puan menggunakan teknologi dan ke mana perhatian Puan pergi. Mindfulness Itu Apa, Sih? Mindfulness secara sederhana adalah kemampuan untuk menyadari dan benar-benar hadir terhadap apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa langsung menghakimi pikiran atau perasaan yang muncul. Menurut Meegasdeniya dan Dulnath (...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...