Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy. Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini?
Realitas Ekonomi
Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu.
Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh faktor individu?
Di tengah perdebatan penurunan gaya hidup yang harus Puan lalui, ada realitas ekonomi yang perlu dilihat, yakni data dari BPS (selengkapnya di sini) yang memperlihatkan fakta bahwa kesulitan finansial tidak hanya disebabkan karena faktor individual, tetapi juga disebabkan karena suatu kondisi saat ini yang dirasa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berdasar kondisi tersebut, Puan mungkin akan mencoba untuk mencari kerja tambahan dan terus-menerus bekerja untuk dapat menghidupi hidup Puan dengan layak. Tanpa sadar, ambisi tersebut malah menuntut Puan untuk selalu produktif agar dapat menghasilkan cuan. Situasi inilah yang membuat Puan masuk dalam Hustle Culture.
Baca Juga: Window Shopping in This Economy
Apa itu Hustle Culture?
Hustle Culture adalah budaya gila kerja yang membuat seseorang terobsesi dengan pekerjaan. Hustle Culture menuntut seseorang untuk bekerja keras dan cepat untuk suatu pekerjaan. Hustle Culture berkembang dalam diri seseorang karena adanya suatu tuntutan yang menyebabkan orang tersebut terus-menerus bekerja tanpa mementingkan dirinya sendiri.
Ciri dari seseorang yang terjebak dalam Hustle Culture di antaranya:
Terobsesi dengan kesuksesan dalam pekerjaan sampai mengesampingkan kesehatan diri
Selalu merasa diri sendiri kurang dan memaksakan kemampuan diri
Bekerja untuk menutupi perasaan depresi
Hidup Tidak Hanya Soai Hustling, Tetapi juga Soal Istirahat!
Di tengah carut-marutnya kondisi ekonomi saat ini, memang tidak dapat dipungkiri jika keinginan Puan adalah terus bekerja agar mendapat penghasilan tambahan, tetapi Puan perlu sadar bahwa bekerja keras dan bekerja terus-menerus adalah dua hal yang berbeda.
Ketika rasa ingin beristirahat yang Puan rasakan malah menjadi hal tidak menyenangkan yang diliputi rasa bersalah, sampai akhirnya Puan abaikan, itu adalah tanda jelas bahwa Puan harus berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan hidup yang telah Puan lalui.
Beberapa cara yang dapat Puan lakukan untuk work-life balance di tengah kondisi “in this economy” ialah:
Memahami batasan waktu dan batas maksimal diri Puan
Puan perlu mengenali batas kemampuan fisik, mental, serta waktu yang Puan miliki. Tetapkan waktu untuk beristirahat, bekerja, dan bergulat dengan hobi maupun kesukaan Puan.
Coba untuk menyusun jadwal yang tetap produktif dengan batas-batas yang telah Puan tetapkan
Setelah Puan mengetahui batasan dan waktu yang telah Puan tetapkan, perlu Puan lakukan juga penentuan prioritas dari jadwal-jadwal yang Puan miliki. Tentukan pekerjaan yang penting untuk diselesaikan terlebih dahulu dengan alokasi energi dan waktu yang Puan miliki. Jika Puan memiliki pekerjaan tambahan untuk mendukung gaya hidup yang sedang Puan lalui, pastikan pekerjaan tersebut sesuai dengan poin nomor 1!
Tetapkan target pengeluaran dari setiap pemasukan yang Puan dapat
Di tengah segala harga kebutuhan yang menjadi pertimbangan saat ini, Puan perlu untuk mengatur kondisi finansial yang Puan miliki untuk segala keperluan yang dibutuhkan. Puan dapat menentukan batas maksimal yang Puan harus keluarkan dalam setiap bulannya agar alur keuangan Puan tetap bisa ter….
Rasa khawatir yang Puan rasakan akan kondisi ekonomi saat ini memang tidak dapat diabaikan begitu saja, tetapi jika Puan masuk dalam Hustle Culture juga tidak dapat dibiarkan! Jangan sampai tuntutan yang ada saat ini malah membuat Puan lupa bahwa diri Puan juga perlu dijadikan prioritas untuk dapat selalu bertahan di kondisi “in this economy”.
Jadi bagaimana, Puan? Sudahkah menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi rasa khawatir dalam kondisi “in this ecomony” yang Puan alami?
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karier, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan pada 1 Oktober 2020, Puan Bisa aktif menghadirkan kegiatan kreatif dan edukatif untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda, khususnya usia 16–23 tahun, dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta terhadap dirinya sendiri.
Referensi
Fensynthia, G. (2025, Juli 22). Hustle Culture, Kenali Ciri-Ciri, Dampak, dan Cara Menyikapinya. Alodokter.com. https://www.alodokter.com/hustle-culture-kenali-ciri-ciri-dampak-dan-cara-menyikapinya
Fortuneiza, L. (2026, Oktober 24). Gaji Naik, Namun Biaya Hidup Makin Mahal: Sulit Meningkatkan Kesejahteraan. Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/14livinafortuneizailmuhukum1882/6adccacb34777c6443277653/gaji-naik-namun-biaya-hidup-makin-mahal-sulit-meningkatkan-kesejahteraan
Manurung, A. (2026, Juni 06). Media Sosial Mempengaruhi Perekonomian. Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/agustomanurung1491/6a244d4334777c4eeb0a1ed2/media-sosial-mempengaruhi-perekonomian
Penulis: Nurriska Aura Zahra

Komentar
Posting Komentar