Langsung ke konten utama

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy . Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini? Sumber: Magnific.com Realitas Ekonomi Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu. Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh fakto...

Pressure to Survive in This Economy: Membedah Hustle Culture dalam Gaya Hidup, Puan!

Belakangan ini ramai dibicarakan dalam media sosial terkait perdebatan penurunan gaya hidup in this economy. Katanya, gaya hidup masyarakat saat ini sangat tinggi, sampai akhirnya berada di fase kesulitan secara finansial. Namun, bagaimana jika sebenarnya Puan telah bekerja keras dan terus-menerus mencari cuan? Fase apa yang sebenarnya sedang Puan tempuh saat ini?


Sumber: Magnific.com


Realitas Ekonomi

Perkembangan teknologi yang sangat pesat saat ini, membuat media sosial menjadi salah satu media untuk bertransaksi secara digital dan menjadi salah satu media yang memengaruhi perekonomian masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut dapat dikatakan positif untuk membantu perekonomian, tetapi jika Puan tidak dapat mengontrol penggunaan media sosial sebagai alat transaksi dengan baik, maka Puan dapat terjebak dalam perilaku konsumtif dan dapat memengaruhi keuangan individu.


Namun, apakah kesulitan secara finansial yang Puan hadapi saat ini hanya dipengaruhi oleh faktor individu?


Di tengah perdebatan penurunan gaya hidup yang harus Puan lalui, ada realitas ekonomi yang perlu dilihat, yakni data dari BPS (selengkapnya di sini) yang memperlihatkan fakta bahwa kesulitan finansial tidak hanya disebabkan karena faktor individual, tetapi juga disebabkan karena suatu kondisi saat ini yang dirasa hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Berdasar kondisi tersebut, Puan mungkin akan mencoba untuk mencari kerja tambahan dan terus-menerus bekerja untuk dapat menghidupi hidup Puan dengan layak. Tanpa sadar, ambisi tersebut malah menuntut Puan untuk selalu produktif agar dapat menghasilkan cuan. Situasi inilah yang membuat Puan masuk dalam Hustle Culture.


Baca Juga: Window Shopping in This Economy


Apa itu Hustle Culture?

Hustle Culture adalah budaya gila kerja yang membuat seseorang terobsesi dengan pekerjaan. Hustle Culture menuntut seseorang untuk bekerja keras dan cepat untuk suatu pekerjaan. Hustle Culture berkembang dalam diri seseorang karena adanya suatu tuntutan yang menyebabkan orang tersebut terus-menerus bekerja tanpa mementingkan dirinya sendiri.


Ciri dari seseorang yang terjebak dalam Hustle Culture di antaranya:

  • Terobsesi dengan kesuksesan dalam pekerjaan sampai mengesampingkan kesehatan diri

  • Selalu merasa diri sendiri kurang dan memaksakan kemampuan diri

  • Bekerja untuk menutupi perasaan depresi


Hidup Tidak Hanya Soai Hustling, Tetapi juga Soal Istirahat!

Di tengah carut-marutnya kondisi ekonomi saat ini, memang tidak dapat dipungkiri jika keinginan Puan adalah terus bekerja agar mendapat penghasilan tambahan, tetapi Puan perlu sadar bahwa bekerja keras dan bekerja terus-menerus adalah dua hal yang berbeda.


Ketika rasa ingin beristirahat yang Puan rasakan malah menjadi hal tidak menyenangkan yang diliputi rasa bersalah, sampai akhirnya Puan abaikan, itu adalah tanda jelas bahwa Puan harus berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan hidup yang telah Puan lalui.


Beberapa cara yang dapat Puan lakukan untuk work-life balance di tengah kondisi “in this economy” ialah:

  • Memahami batasan waktu dan batas maksimal diri Puan

Puan perlu mengenali batas kemampuan fisik, mental, serta waktu yang Puan miliki. Tetapkan waktu untuk beristirahat, bekerja, dan bergulat dengan hobi maupun kesukaan Puan.

  • Coba untuk menyusun jadwal yang tetap produktif dengan batas-batas yang telah Puan tetapkan

Setelah Puan mengetahui batasan dan waktu yang telah Puan tetapkan, perlu Puan lakukan juga penentuan prioritas dari jadwal-jadwal yang Puan miliki. Tentukan pekerjaan yang penting untuk diselesaikan terlebih dahulu dengan alokasi energi dan waktu yang Puan miliki. Jika Puan memiliki pekerjaan tambahan untuk mendukung gaya hidup yang sedang Puan lalui, pastikan pekerjaan tersebut sesuai dengan poin nomor 1!

  • Tetapkan target pengeluaran dari setiap pemasukan yang Puan dapat

Di tengah segala harga kebutuhan yang menjadi pertimbangan saat ini, Puan perlu untuk mengatur kondisi finansial yang Puan miliki untuk segala keperluan yang dibutuhkan. Puan dapat menentukan batas maksimal yang Puan harus keluarkan dalam setiap bulannya agar alur keuangan Puan tetap bisa ter….


Rasa khawatir yang Puan rasakan akan kondisi ekonomi saat ini memang tidak dapat diabaikan begitu saja, tetapi jika Puan masuk dalam Hustle Culture juga tidak dapat dibiarkan! Jangan sampai tuntutan yang ada saat ini malah membuat Puan lupa bahwa diri Puan juga perlu dijadikan prioritas untuk dapat selalu bertahan di kondisi “in this economy”.


Jadi bagaimana, Puan? Sudahkah menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi rasa khawatir dalam kondisi “in this ecomony” yang Puan alami?


Sekilas Tentang Puan Bisa

Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karier, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan pada 1 Oktober 2020, Puan Bisa aktif menghadirkan kegiatan kreatif dan edukatif untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda, khususnya usia 16–23 tahun, dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta terhadap dirinya sendiri.


Referensi

Fensynthia, G. (2025, Juli 22). Hustle Culture, Kenali Ciri-Ciri, Dampak, dan Cara Menyikapinya. Alodokter.com. https://www.alodokter.com/hustle-culture-kenali-ciri-ciri-dampak-dan-cara-menyikapinya


Fortuneiza, L. (2026, Oktober 24). Gaji Naik, Namun Biaya Hidup Makin Mahal: Sulit Meningkatkan Kesejahteraan. Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/14livinafortuneizailmuhukum1882/6adccacb34777c6443277653/gaji-naik-namun-biaya-hidup-makin-mahal-sulit-meningkatkan-kesejahteraan


Manurung, A. (2026, Juni 06). Media Sosial Mempengaruhi Perekonomian. Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/agustomanurung1491/6a244d4334777c4eeb0a1ed2/media-sosial-mempengaruhi-perekonomian


Penulis: Nurriska Aura Zahra

 

Komentar

Rubik Puan Popular

Let Them Theory: Berhenti Mengejar yang Tidak Meimilih Puan

Image by: KPU KAB-NDUGA  Puan pernah nggak sih merasa sudah berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan seseorang, tapi tetap saja hasilnya mengecewakan? Atau Puan terus memikirkan sikap orang lain, mencoba memahami, bahkan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya di luar kendali? Perasaan seperti ini sering membuat Puan lelah tanpa disadari, karena terlalu fokus pada hal yang tidak bisa diatur. Di sinilah The Let Them Theory mulai terasa relevan. Konsep ini memperkenalkan cara pandang sederhana, bahwa tidak semua hal perlu diperjuangkan mati-matian, terutama jika itu melibatkan kehendak orang lain. Baca Juga:  https://puanbisa.blogspot.com/2026/04/be-of-service-ternyata-kunci-pede.html Apa sih Let Them Theory itu? Sering kali, tanpa disadari, Puan menghabiskan banyak energi untuk mencoba memahami, memperbaiki, atau bahkan mengendalikan orang lain. Padahal, tidak semua hal memang berada dalam kendali Puan. Konsep “ let them ” pada dasarnya mengajak Puan untuk be...

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!

Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 J akarta, 13 Oktober 2026. Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT). Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 202...

The Lipstick Effect in the Age of Bad News

Puan pernah ngalamin nggak, sudah berniat untuk menabung, tapi beberapa jam kemudian sudah ada kopi di tangan Puan? Kopi tersebut sebetulnya lagi nggak Puan perluin sih… tapi Puan pengen beli aja. Mungkin Puan berpikir “Ah cuma 20 ribu, kok” dan merasa aman setelah spend uang akan hal tersebut, tapi nyatanya ini adalah suatu fenomena yang terjadi dalam dunia ekonomi, yaitu kebiasaan membeli barang-barang kecil sebagai bentuk self-reward yang dikenal dengan istilah Lipstick Effect .  Sumber: Magnific.com A. What is the Lipstick Effect? Saat kondisi ekonomi sedang kacau, harga kebutuhan pokok sedang naik-naiknya, banyak konsumen yang mulai menahan diri untuk melakukan pengeluaran besar, mungkin salah satunya adalah Puan. Namun sebagai gantinya, anggaran tersebut malah dialihkan untuk memenuhi kebutuhan psikologis yang lebih terjangkau. Lipstick Effect adalah suatu fenomena yang terjadi saat kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tetapi para konsumen tetap membeli suatu produk ...