Langsung ke konten utama

I'm Not Mad at You, I'm Just in Pain.

sumber: pexels.com Kebanyakan dari Puan pasti pernah ngalamin saat lagi menstruasi: perut kram, pinggang pegal, dan rasanya ingin rebahan aja gitu seharian. Belum lagi dengan emosi yang tidak stabil, hal sekecil apapun pasti bisa berpotensi bikin Puan sebal, padahal biasanya Puan bisa lebih santai menghadapi hal yang sama. Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa. Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?” Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that? It's Not Just About the Cramps Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan ...

Intip antusiasme Para Puan Dalam Meninjau Keputusan Hidupnya di Puan Bisa Festival 2026!


Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026

Jakarta, 13 Oktober 2026.

Perempuan muda saat ini dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tekanan untuk sukses secara profesional, mandiri secara finansial, dan memenuhi ekspektasi sosial. Tekanan ini juga tercermin dalam dunia kerja; laporan McKinsey & Company dan LeanIn.Org (2025) mencatat sekitar 60% perempuan di level kepemimpinan melaporkan mengalami burnout secara konsisten. Di tengah berbagai tuntutan tersebut, proses menentukan arah hidup, mulai dari pendidikan dan karier hingga pembentukan identitas diri, dapat menjadi tantangan tersendiri. Menjawab tantangan ini, Puan Bisa Festival 2026 mengusung tema “Brave to Step Back: RISE”, yang mengajak perempuan muda untuk mengambil jeda, merefleksikan pilihan, dan menentukan arah hidup secara lebih sadar melalui pendekatan Self-Determination Theory (SDT).


Diselenggarakan secara luring pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia, Puan Bisa Festival 2026 menghadirkan rangkaian kegiatan bertema well-being untuk mendukung perempuan muda memahami kebutuhan dan arah hidupnya. Festival ini menghadirkan Gina Sinaga, Adult Clinical Psychologist di Indopsycare sekaligus Director of Research and Development, dalam talkshow bertajuk “Not All Growth Looks the Same: Understanding Your Version of Enough”, serta Resti Nur Hilmawati, Clinical Psychologist dan Associate Psychologist di Yayasan Putih, dalam workshop “Slow Down to Level Up: Aligning Your Path with RISE”. Melalui kedua sesi ini, peserta diajak mengeksplorasi perspektif tentang pertumbuhan personal, kesejahteraan diri, dan pengambilan keputusan yang lebih selaras dengan kebutuhan masing-masing.


Dalam sesi talkshow bertajuk “Not All Growth Looks the Same: Understanding Your Version of Enough”, Gina Sinaga, Adult Clinical Psychologist di Indopsycare sekaligus Director of Research and Development, membagikan pengalamannya menghadapi berbagai tantangan personal dan profesional sebagai perempuan. Sesi yang dimoderatori oleh Asa, Executive Director IndoRelawan, mengajak peserta mengenali kapasitas diri sebelum mengambil keputusan, salah satunya melalui analisis SWOT dan pemahaman terhadap beragam bentuk kecerdasan (multiple intelligences).

Gina menekankan bahwa setiap individu memiliki keunggulan yang berbeda, sehingga tidak perlu memaksakan diri mengikuti standar orang lain. Menurutnya, perempuan juga perlu membangun prinsip dan integritas untuk menghadapi stigma sosial, sekaligus terus mengembangkan potensi yang dimiliki.

Dalam memaknai arti “cukup”, Gina mengajak peserta melakukan refleksi diri secara berkala dengan melihat perjalanan hidup dari perspektif masa lalu dan masa depan. Ia berpesan, “Setiap tahun, usahakan selalu ada momen refleksi sama diri sendiri.” Melalui refleksi tersebut, perempuan diharapkan dapat lebih menghargai pencapaian dan proses yang telah dilalui tanpa terus-menerus merasa kurang.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan sesi bersama Resti Nur Hilmawati, Clinical Psychologist dan Associate Psychologist di Yayasan Putih, yang membahas “Jeda yang Berdaya” sebelum memasuki workshop utama. Dalam sesi yang dimoderatori oleh Anisa, Chief Financial Officer, Resti menjelaskan bagaimana hustle culture dapat membuat seseorang terus bergerak tanpa memahami tujuan dan makna dari aktivitas yang dijalani, hingga mengalami kesulitan untuk berpikir jernih atau brain fog.

Sebagai alternatif, Resti memperkenalkan konsep intentional pause, yaitu mengambil jeda secara sadar untuk mengevaluasi situasi sebelum menentukan respons atau keputusan. Ia mengajak peserta memperlambat langkah, meninjau kembali tujuan, serta membedakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan logis dan reaksi emosional. “Untuk mengatasi brain fog, kita harus recharge and check maps,” jelas Resti, Sabtu (10/10).

Pendekatan tersebut kemudian diterapkan melalui framework RISE, yang terdiri atas Reflect Your Pace, Inclusive Self-Understanding, Strategize Intentionally, dan Evolve Sustainably. Melalui empat pilar ini, peserta diajak mengenali kondisi diri, memahami nilai personal, menyusun strategi pengambilan keputusan, dan membangun kebiasaan yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan.

Peserta kemudian mempraktikkan pendekatan RISE melalui pengisian worksheet yang disediakan panitia. Empat peserta berkesempatan memaparkan hasil refleksi mereka, yang menunjukkan beragam perspektif meskipun menggunakan panduan yang sama.

Salah satu peserta, Ara, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut membantunya mengenali kebiasaan menunda pekerjaan ketika suasana hatinya menurun. Melalui pilar Evolve Sustainably, ia memperoleh perspektif baru untuk mengelola pekerjaan dengan lebih terarah. Sementara itu, Caesi membagikan pengalamannya menerapkan micro-habits, seperti menetapkan tenggat waktu pribadi, untuk membantu mengelola rasa takut dan hambatan emosional secara lebih konsisten.

Menanggapi hasil refleksi peserta, Resti menegaskan bahwa setiap individu memiliki latar belakang, kebutuhan, dan proses pertumbuhan yang berbeda. Ia menutup sesi workshop dengan pesan, “Slowing down doesn't mean you're falling behind.” Baginya, mengambil jeda bukan berarti tertinggal, melainkan kesempatan untuk memahami kebutuhan diri sebelum kembali melangkah.

Melalui Puan Bisa Festival 2026, perempuan muda diajak untuk memaknai pertumbuhan bukan sekadar tentang seberapa jauh mereka melangkah, tetapi juga seberapa sadar mereka menentukan arah. Dini Aulia, Project Manager Puan Bisa Festival 2026 sekaligus Chief of People Officer Puan Bisa, berharap setiap perempuan dapat mengambil keputusan berdasarkan nilai, prinsip, dan integritas yang diyakininya, bukan semata-mata karena tuntutan atau ekspektasi sosial.

“Berani mengambil jeda bukan berarti berhenti bertumbuh. Justru, dengan memahami diri dan apa yang benar-benar kita butuhkan, kita dapat melangkah kembali dengan lebih sadar dan selaras dengan nilai yang kita pegang,” menjadi pesan yang merangkum semangat dari tema Puan Bisa Festival 2026 yaitu “Brave to Step Back: RISE”.


Penulis: Nurriska Aura Zahra


Komentar

Rubik Puan Popular

Puan Bisa Festival 2026 : Dorong Perempuan Muda Meninjau Keputusan Hidup Berdasar Integritas Diri

  Sumber: Dokumentasi Puan Bisa Festival 2026 Jakarta, 15 Oktober 2026  Di tengah dinamika dunia kerja dan persaingan dalam proses pencarian kerja, perempuan muda kerap menghadapi tekanan untuk terus meningkatkan kemampuan, mencapai standar kesuksesan tertentu, dan menentukan arah karir sejak dini. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan dalam mengenali potensi diri serta menentukan langkah yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Menanggapi tantangan tersebut, Puan Bisa menghadirkan Webinar Career dalam rangkaian Puan Bisa Festival 2026 untuk mengajak perempuan muda mengenali potensi diri dan menyusun arah karir secara lebih terarah. Puan Bisa merupakan komunitas non-profit yang didirikan pada 1 Oktober 2020 dan berdedikasi untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda Indonesia dalam mengembangkan kemampuan dan kecintaan terhadap diri sendiri melalui konten edukatif, Instagram Live, webinar, serta berbagai program pengembangan diri lainnya. Melalui kolaborasi,...

Fenomena Doom Scrolling, Kebiasaan yang Bikin Burn Out

  " Scroll bentar deh.." Terus tanpa sadar mata mulai berat, tangan pegal, dan lupa waktu sendiri. Pernah ngalamin hal serupa? Kalau iya, berarti Puan lagi ngalamin yang namanya doom scrolling . Doom scrolling itu kalau Puan terus-terusan mengonsumsi informasi, terutama berita negatif yang ada pada sosial media. Menurut Cambdrige Dictionary , kata "Doomscr oll" mengacu kepada tindakan  terlalu sering menatap layar  untuk membaca berita buruk atau kurang  berbobot.  Nah, dari sini mungkin banyak Puan yang jadi ngerti apa itu doom scrolling , istilah yang belakangan sering muncul di internet. Kalau kita teliti, lagi  penyebabnya nggak bakalan lepas dari ketergantungan kita  pada handphone .  Hampir setiap hari kita menerima banyak pesan notifikasi. Terlepas  isinya penting atau tidak terlalu penting secara refleks pasti kita cek kalau dibiarkan menimbulkan rasa cemas atau anxiety,   seakan ada hal tertinggal jika kita tidak membuka lay...

Emotional Agility: Cara Bijak Mengelola Emosi

Sumber:  aventislearning.com Puan, bagaimana kalau emosi bukan musuh yang harus dihindari, melainkan sahabat yang bisa memandu kita untuk mengambil keputusan yang lebih bijak? Setiap hari Puan berhadapan dengan emosi yang beragam: senang, cemas, marah, kecewa, sampai rasa tidak berdaya. Sering kali, Puan diajarkan untuk menekan emosi tertentu dan menampilkan emosi lain agar terlihat “baik-baik saja”. Masalahnya, cara ini justru membuat jadi makin lelah. Emosi jadi menumpuk dan akhirnya meledak. Di sisi lain, ada juga yang membiarkan emosi menguasai dirinya. Sedikit kritik bisa membuat patah semangat, atau kegagalan kecil terasa seperti bencana yang besar. Padahal, emosi bukan musuh yang harus dihindari maupun hal yang harus ditaati. Yang kita butuhkan bukan “ positivity berlebihan ”, melainkan keterampilan untuk merespons emosi secara sehat dan fleksibel. Keterampilan inilah yang disebut emotional agility . Apa Itu Emotional Agility? Konsep ini diperkenalkan oleh psikolog Susan Dav...

Intentional Pause: Berhenti Sejenak Bukan Berarti Menyerah

  Sumber: pexels.com Halo, Puan! Puan pernah gak sih merasa harus selalu produktif? Baru selesai satu target, Puan udah langsung memikirkan target berikutnya. Apalagi kalau Puan lihat pencapaian orang lain di media sosial, rasanya jadi pengen ikut lari lebih cepat biar gak ketinggalan. Bahkan ketika sedang beristirahat pun, bisa muncul perasaan bersalah karena merasa gak cukup produktif. Tanpa sadar, Puan telah hidup dalam ritme yang menuntut semuanya serba cepat, cepat sukses, cepat berkembang, cepat mengambil keputusan, dan cepat mencapai tujuan. Padahal, sometimes, the most productive thing you can do is simply pause. Di tengah kehidupan yang serba cepat ini, mengambil jeda secara sadar atau intentional pause bisa menjadi cara untuk refleksi dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Bukan sekadar berhenti dari kesibukan, tapi memberi ruang untuk berpikir, merefleksikan keadaan, dan menentukan step atau goals berikutnya dengan lebih bijak. Intentional pause dapat membantu Puan...