Kadang, Puan sendiri juga pasti bingung kan kenapa jadi lebih sensitif dari biasanya. Susah fokus ngerjain tugas karena sakit, diajak ngobrol rasanya nggak punya energi, atau tiba-tiba ingin nangis tanpa tahu harus menjelaskan apa.
Di tengah rasa nggak nyaman itu, Puan mungkin jadi bertanya-tanya, “Kenapa rasanya jadi sedih banget ya? Kok jadi gampang banget emosi?”
Padahal, ada kalanya tubuh Puan memang sedang menghadapi banyak perubahan. Rasa sakit, perubahan suasana hati, dan kondisi emosional bisa datang berbarengan; apalagi saat sedang menstruasi. And why is that?
It's Not Just About the Cramps
Selama menstruasi, rasanya bukan cuma perut yang ikut merasakan dampaknya. Aktivitas sehari-hari yang biasanya terasa biasa saja pun bisa jadi lebih melelahkan ketika tubuh sedang kesakitan.
Trianti et al., (2022) menemukan adanya hubungan antara dismenore atau nyeri menstruasi dengan perubahan suasana hati perempuan, di mana Puan mungkin mengerti akan perasaan tersebut. Ketika perut terus terasa sakit, duduk terlalu lama bikin nggak nyaman, fokus belajar mulai buyar, dan hal-hal kecil terasa lebih mengganggu, menghadapi situasi lain pun bisa terasa lebih berat karena energi sudah terkuras.
Tentu, pengalaman setiap orang berbeda. Ada yang tetap bisa beraktivitas seperti biasa, ada yang butuh lebih banyak istirahat, dan ada juga yang merasa suasana hatinya ikut berubah ketika rasa sakit muncul.
Jadi, kalau Puan merasa lebih gampang kesal saat menstruasi, bukan berarti Puan otomatis menjadi orang yang pemarah. Itu hanya tanda tubuh Puan sedang merasa nggak nyaman dan butuh waktu untuk beristirahat.
Why Does My Mood Feel Different Than Usual?
Selain rasa sakit, perubahan hormon juga bisa ikut memengaruhi suasana hati Puan selama siklus menstruasi.
Menurut Alodokter (2024), perubahan kadar hormon estrogen pada masa pra menstruasi dapat memengaruhi zat kimia di otak yang berkaitan dengan suasana hati, seperti serotonin dan endorfin. Hal ini bisa berkontribusi terhadap perubahan mood yang dialami sebagian orang menjelang menstruasi.
Makanya, pengalaman menstruasi nggak selalu soal kram perut. Ada yang merasa lebih sensitif, gampang kesal, lebih sedih, atau cepat lelah. Kondisi tubuh, stres, dan hal-hal yang sedang kita hadapi juga bisa ikut berperan.
Lalu, bagaimana caranya Puan dapat meregulasi emosi?
Regulasi emosi secara sederhana adalah kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan merespons emosi dengan cara yang paling sesuai dan nyaman untuk Puan, Misalnya, ketika Puan sedang kesal atau merasa kewalahan, misalnya, Puan juga harus belajar memahami apa yang sedang Puan rasakan terlebih dahulu sebelum memutuskan bagaimana harus meresponsnya.
Penelitian oleh Rusnoto et al. (2021) menjelaskan hubungan antara regulasi emosi dan siklus menstruasi bukan untuk membuktikan bahwa menstruasi akan membuat seseorang kehilangan kendali atas emosinya. Melainkan menjadi pengingat bahwa mengenali dan mengelola emosi merupakan hal yang penting, apalagi ketika Puan sedang menghadapi kondisi tubuh yang kurang nyaman.
So, What Can We Do When Everything Feels Too Much?
Ada beberapa hal sederhana yang bisa Puan coba ketika menstruasi terasa melelahkan, baik secara fisik maupun emosional:
1. Listen to What Your Body Need
Puan bisa berhenti sebentar: mencari posisi yang nyaman, memenuhi kebutuhan cairan, atau melakukan aktivitas ringan.
2. Pause Before You React
Sejalan dengan pembahasan mengenai regulasi emosi oleh Rusnoto et al. (2021), mengenali dan mengelola emosi merupakan hal yang penting. Puan mungkin nggak selalu bisa memilih perasaan apa yang muncul, tetapi Puan bisa belajar menentukan bagaimana meresponsnya.
Misalnya ketika sedang kesal, terkadang Puan ingin langsung membalas pesan atau mengungkapkan apa yang dirasakan saat itu juga. Padahal, mengambil jeda sebentar dapat membantu Puan memahami emosi sebelum bertindak.
3. Tell People What You Need
Menjelaskan kondisi yang sedang Puan rasakan se-sederhana, “Aku lagi sakit banget hari ini, jadi mau istirahat dulu, ya,” atau “Aku lagi agak sensitif, jangan bikin aku kesal, ya” dapat membantu Puan agar tidak memendam semuanya, juga orang lain dalam memahami keadaan Puan tanpa harus menebak-nebak.
4. Be Kind to Yourself, Too
Puan nggak harus menunggu sampai benar-benar kelelahan untuk memberi diri sendiri waktu bernapas. Berbaik hati kepada diri sendiri bukan berarti membiarkan semua perilaku begitu saja. Kalau tanpa sadar Puan menyakiti perasaan orang lain, Puan tetap bisa meminta maaf sekaligus belajar memahami apa yang perlu diperbaiki.
It's Okay to Feel Pain, Puan
Menstruasi bisa terasa berbeda bagi setiap orang. Ada yang melewatinya tanpa banyak keluhan, ada yang harus berhadapan dengan nyeri, dan ada juga yang merasa suasana hatinya ikut berubah.
Jadi, kalau Puan sedang merasa lebih sensitif dari biasanya, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri karena terlalu pemarah atau hal lainnya, ya, Puan. Kenali apa yang sedang Puan rasakan terlebih dahulu, beri tubuh waktu untuk beristirahat, lalu komunikasikan kebutuhan Puan kepada orang-orang terdekat.
Because understanding yourself is about knowing what you're going through and learning how to take care of yourself, one day at a time.
Sekilas Tentang Puan Bisa
Puan Bisa adalah komunitas perempuan muda yang mendukung pengembangan karier, self-improvement, dan mental health. Sejak pertama kali didirikan pada 1 Oktober 2020, Puan Bisa aktif menghadirkan kegiatan kreatif dan edukatif untuk meningkatkan kesadaran perempuan muda, khususnya usia 16–23 tahun, dalam mengembangkan kemampuan dan rasa cinta terhadap dirinya sendiri.
Alodokter. (2024, 31 Oktober). Mood buruk saat datang bulan, ini penjelasannya.
https://www.alodokter.com/mood-buruk-saat-datang-bulan-cerita-lama
Rusnoto, Mundriyastutik, Y., & Cholifah, N. (2021). Hubungan regulasi emosi dengan siklus menstruasi pada mahasiswi Program Studi S1 Keperawatan Tingkat 1 di Universitas Muhammadiyah Kudus Tahun 2020. The 14th University Research Colloqium 2021, 607–615.
Trianti, S. N., Purwaningsih, E., Arifandi, F., & Qomariyah, R. S. (2022). Pengaruh dysmenorrhea terhadap perubahan suasana hati pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas YARSI angkatan 2020 dan tinjauannya menurut pandangan Islam. Junior Medical Journal, 1(3), 351–358.

Komentar
Posting Komentar