Langsung ke konten utama

Postingan

How to Find Your Spark Again, One Little Thing at a Time

Pernah nggak, Puan merasa dulu ada banyak hal yang bisa bikin Puan excited , tapi sekarang hal-hal itu terasa nothing special? Dulu bisa berjam-jam ngelakuin hal yang disuka, sekarang baru beberapa menit sudah ingin berhenti. Dulu punya banyak hal yang ingin dicoba, sekarang ditanya “lagi suka kegiatan apa?” malah bingung mau jawab apa. Puan masih menjalani aktivitas seperti biasa, kuliah, kerja, mengerjakan tugas, ketemu temen, scrolling media sosial. Everything seems fine. Tapi somehow, ada bagian dari diri Puan yang terasa berbeda. Seolah-olah spark yang dulu membuat hari-hari terasa lebih hidup perlahan menghilang.  Dan mungkin, Puan mulai bertanya-tanya, “What happened to me?”  1. Stop Trying to Become Your Old Self Ketika merasa kehilangan spark , kita sering kali ingin kembali menjadi diri kita yang dulu. Padahal, Puan udah melewati banyak hal sejak saat itu. Wajar kalau ada bagian dari diri Puan yang berubah. Karena itu, menemukan kembali spark bukan berarti harus meng...

Coping Mechanism: Strategi Menghadapi Tantangan Hidup

Puan tentunya pernah bukan, merasakan stress? Misal, merasa stress karena pendidikan, pekerjaan, keluarga, hingga masalah percintaan. Ketika merasa stress, dapat dipastikan bahwa Puan akan melakukan suatu tindakan sebagai strategi dalam menghadapi situasi yang menghadapi situasi tersebut. Tindakan tersebut disebut pula sebagai  Coping Mechanism . Bagaimana menerapkan  "Coping Mechanism"  yang tepat?  Walaupun merupakan tindakan pelepasan stres namun nyatanya tak semua tindakan coping mechanism itu positif. Mungkin saja Puan melakukan mekanisme koping hanya untuk mengalihkan Puan dari perasaan stres tanpa menyelesaikan masalah Puan sendiri dan tentunya dapat mengarahkan Puan ke kebiasaan yang tidak sehat. Seperti menyakiti diri sendiri, meminum minuman keras, memakan makanan yang tidak sehat secara berlebihan, menghindari aktivitas sosial dalam jangka waktu yang panjang. Lalu bagaimanakah melakukan coping mechanism secara benar dan tepat? Menurut Lazarus dan Susan...

Membangun Kepercayaan Diri: Menerima Diri Sendiri di Luar Society's Standards

“Society’s Standards”, pernahkah Puan mendengar istilah ini? Gampangnya, society’s standards adalah suatu standar yang dijadikan sebagai suatu acuan. Society’s standards biasanya memegang prinsip kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian besar dari Puan mungkin saja pernah merasakan tekanan dari society‘s standards. Tekanan yang kita rasakan akibat society‘s standards sudah sering kita rasakan bahkan sebelum kita mengenal kata “sempurna”. Banyak dari Puan mungkin pernah didorong untuk menjadi seseorang yang bukan sosok diri Puan hanya untuk bisa masuk dalam society. Society menginginkan Puan untuk menjadi sempurna. Seperti, harus menjadi pintar, lucu, cantik, berbakat, dan masih banyak lagi terkadang hanya untuk bisa diterima di suatu lingkungan. Percayalah Puan, lingkungan seperti sangat tidak sehat untuk ditinggali. Banyak orang diluar sana melakukan hal yang tidak mereka ingin lakukan agar bisa diterima dalam society. Mengubah opini, gaya rambut, fitur wajah, dan lain sebagain...

Caring for Others: Avoiding Caregiver Burnout and Finding Balance in the Journey

 Pernahkah Puan merawat seseorang terdekat Puan dengan membantu menyediakan kebutuhan medis dan pribadi orang yang sedang sakit? Orang tersebut disebut pula caregiver . Nah, Disini Puan Bisa akan menjelaskan terkait dengan Caregiver. Caregiver merupakan pengasuh yang merawat orang lain ketika orang tersebut sakit sehingga tidak mampu merawat dirinya sendiri. Memang sih, di awal-awal mungkin akan merasa baik-baik saja ketika membantu mereka yang sedang sakit, namun tidak jarang jika dalam kurun waktu yang lama seringkali seorang caregiver kewalahan dan sering kehabisan tenaga yang menguras emosi, fisik, dan mental. Kalau sudah merasakan stres dan lelah yang mempengaruhi kehidupan kesehatan Puan secara negatif, maka fenomena ini disebut sebagai caregiver burnout. Teman-teman Puan Bisa disini sudah tahu belum tanda-tanda caregiver burnout? Tidak melakukan aktivitas selama beberapa waktu alias cenderung menarik diri dari teman-teman dan keluarga Kehilangan minat pada aktivitas yang bia...

Mengubah Pikiran Negatif Menjadi Positif: Membangun Mindset Penuh Keyakinan dan Optimisme

Apakah Puan sering merasa terjebak dalam pikiran negatif yang menghalangi Puan meraih potensi dan kebahagiaan? Jika iya, maka Puan berada di tempat yang tepat. Artikel ini akan membahas cara mengubah pikiran negatif menjadi positif dengan membangun mindset yang penuh keyakinan dan optimisme. Mindset, atau pola pikir, merupakan pondasi penting dalam menjalani kehidupan yang sukses dan membangun kebahagiaan. Pikiran negatif seperti keraguan, rasa tidak berharga, dan kecemasan dapat merusak mindset Puan dan menghalangi Puan mencapai potensi terbaik.  Namun, Puan tidak perlu putus asa. Ada beberapa langkah praktis yang dapat Puan lakukan untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif: Kesadaran akan pikiran negatif: Puan perlu mengenali dan menyadari pola pikir negatif yang muncul dalam diri Puan. Coba identifikasi pikiran-pikiran tersebut dan berikan pengertian bahwa Puan memiliki kendali atas pikiran-pikiran itu. Reframing: Saat Puan menghadapi pikiran negatif, coba ubah perspektif...

Mengatasi Perbandingan Sosial: Menggenggam Self-Acceptance di Era Media Sosial

Pernahkah Puan merasa terjebak dalam erangkap perbandingan tak berujung di era media sosial? Melihat orang lain yang tampak lebih sukses, lebih berprestasi, atau lebih cantik dari Puan dapat membuat Puan merasa minder. Pertanyaan-pertanyaan seperti "Mengapa aku tidak sebaik dia?" atau "Mengapa hidupnya tampak lebih sempurna daripada milikku?" mungkin telah menghantui pikiran Puan. Jangan khawatir, Puan tidak sendirian! Perasaan-perasaan ini adalah hal yang wajar, terutama dalam dunia yang semakin terhubung dan serba kompetitif seperti masa kini. Namun, penting bagi Puan sebagai perempuan masa kini untuk memahami bahwa self-acceptance (penerimaan diri) adalah kunci utama untuk menggenggam kekuatan sejati dan menemukan kedamaian dalam hidup. Self-acceptance bukanlah proses instan, melainkan perjalanan emosional yang membutuhkan waktu dan dedikasi.  Dalam perjalanan ini, penerimaan diri mengajarkan Puan untuk mencintai dan menerima diri sendiri dengan segala kelebiha...