Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...
Terkadang ekspektasi tak sejalan dengan realita yang diperoleh. Ekspektasi yang ada dalam diri seseorang bisa dipengaruhi banyak hal, sehingga dampak yang ditimbulkan juga beragam. Mengontrol ekspektasi diperlukan agar harapan yang tinggi tidak menjadi bumerang bagi Puan. Pernahkan Puan mendengar kalimat “No expectation, no disappointments”. Ekspektasi sering menjadi hal yang membuat orang mudah kecewa, sedih, dan menjadi tidak bersemangat. Meskipun begitu, ekspektasi bisa menjadi sumber motivasi loh, Puan! Apalagi bila diimbangi rencana yang matang untuk mewujudkannya. Apakah Puan termasuk orang yang sering berekspektasi tinggi? Berekspektasi adalah hal yang sulit untuk dihilangkan karena setiap orang pasti menginginkan hal yang terbaik bagi dirinya. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar Puan bisa mengontrol ekspektasi di dalam diri. Berikut Puan Bisa akan memberikan tips cara menjaga ekspektasi agar tidak terlalu tinggi: 1. Menyeimbangkan antara logika dan perasaan Saat Puan mem...