Langsung ke konten utama

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Merasa Kurang Berharga? Yuk Mengenal dan Mengatasi Inferiority Complex!


Puan, pernahkan merasa atau menganggap diri sendiri lebih rendah dari orang lain? Tidak percaya diri dan merasa bahwa dirinya kecil. Kondisi tersebut dikenal pula sebagai Inferiority Complex. Istilah tersebut diperkenalkan oleh seorang psikolog bernama Alfred Adler di tahun 1907. Sebenarnya, kondisi ini sangat normal saat seseorang mampu mengukur kemampuannya dengan orang lain. Namun, tak jarang perasaan rendah diri tersebut dapat membawa korban ke kondisi lain yang justru membuat orang tersebut menjadi sangat kesulitan memahami dirinya sendiri.

Intinya, kompleks inferioritas adalah perasaan yang muncul untuk menunjukkan bahwa kualitas seseorang terasa belum maksimal atau merasa kalah dari orang lain. Lalu, apakah penyebab dari kondisi tersebut?

1. Pengalaman Masa Kecil
Tak jarang, di beberapa keluarga, orang tua atau anggota keluarga lainnya kerap membandingkan seseorang dengan orang lainnya. Kemudian, dicetuskan pula beberapa komentar negatif mengenai orang tersebut. Tentu hal ini merupakan salah satu penyebab dari sikap rendah diri tersebut. Dibesarkan di keluarga yang kurang suportif memicu anak menjadi individu yang gampang insecure dan tidak percaya diri. Namun, tak jarang pada fase remaja pun seseorang bisa mengalami kondisi ini karena kerap mendapatkan perlaku yang serupa dari lingkungan di sekitarnya, entah itu dari keluarga atau teman.

2. Kondisi Fisik
Penyebab yang satu ini seringkali menimpa orang-orang. Mereka yang tidak percaya diri mengenai penampilannya kerap mengalami insecure dan justru merasa rendah diri. Kadang, korban lebih memilih untuk memakai pakaian atau aksesoris yang setidaknya menutupi kondisi fisik yang mereka rasa tidak percaya diri jika ditunjukkan.

3. Faktor Kesehatan
Mengalami depresi atau kesehatan mental lainnya dapat membuat seseorang menjadi merasa bahwa kualitasnya tidak sebanding dengan orang lain.

4. Status Sosial dan Ekonomi
Mereka yang hidup dengan status sosial yang lemah cenderung mengalami kondisi inferiority complex. Golongan ini merasa adanya kesenjangan sosial-ekonomi sehingga membuat mereka menjadi tidak setara dengan orang-orang yang mereka rasa lebih beruntung.

Adapun penyebab inferiority complex lainnya adalah perfeksionisme, merasa hidup dalam penyesalan, menganggap diri sebagai sumber atau penyebab masalah, dan membandingkan diri sendiri dengan orang lain (Iqbal, 2017, hlm. 320). Lalu, bagaimana cara mengatasi perasaan tersebut?

Salah satu solusi untuk mengurangi inferiority complex pada mahasiswa adalah dengan berfokus kepada kelebihan diri sendiri, dan membuat gambaran mengenai keyakinan dan nilai yang positif dalam diri yang nantinya akan mengarahkan pada kesuksesan (Kenchappanavar, 2012). Selain itu Hauck (1997,hlm 57) menuturkan bahwa rational emotive behavioral therapy menawarkan tiga cara efektif untuk menurunkan kondisi rendah diri. Tiga cara tersebut adalah developing performance-confidence, making people respect you, dan never rating yourself.

Jadi, jangan pernah merasa rendah diri yang berlebihan ya, Puan!

Referensi :


Hauck, P. A. (1997). Three Ways to Overcome Inferiority Feelings. Journal of Rational-Emotive & Cognitive-Behavior Therapy, 15(1), 57–69

Kenchappanavar, R. N. (2012). Relationship between Inferiority complex and Frustration in Adolescents. IOSR Journal of Humanities and Social Science (JHSS), 2(2), 1–

Iqbal, M. (2017). Kajian Psikologi Sastra Kepribadian Real Self dan Ideal Self Tokoh Utama Novel Gornathoh Karya Ridwan Ashour. Artikel, Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa.

Author : Namratul Ulya Fathulimamah M
Editor : Nazwal Bilbina Budiman

Komentar

Rubik Puan Popular

Soft Skill dan Hard Skill yang Wajib Dipelajari Untuk Bekal Penting Karir Impian!

Kenapa Kita Harus Belajar Skill Sebelum Masuk Dunia Kerja? Masuk dunia kerja itu beda banget dengan dunia kuliah, Puan. Kalau di kampus yang dinilai adalah tugas, maka di pekerjaan yang dinilai adalah output , attitude , kemampuan bekerja sama , dan keahlian yang bisa memberikan dampak nyata . Itulah kenapa “bekal” sebelum masuk dunia kerja itu penting, dan bekalnya bukan cuma ilmu teori, tapi juga soft skill dan hard skill . Menurut laporan dari World Economic Forum (Future of Jobs Report 2024), kandidat yang punya kombinasi soft skill dan hard skill yang kuat punya peluang lebih cepat diterima kerja dan lebih cepat naik posisi , lho! Apa Itu Hard Skill ? Hard skill adalah kemampuan teknis yang biasanya bisa diukur, dipelajari, dan diuji, contohnya: belajar software tertentu, kemampuan analisis data, atau membuat presentasi profesional. Hard skill biasanya dicantumkan dalam CV karena sifatnya jelas dan spesifik. Hard Skill yang Lagi Banyak Dicari Saat Ini: Microsoft Office ...

Teknik Tiga Skenario, Cara untuk Mengurangi Planning Fallacy

  Ilustrasi Perencanaan. Photo by cottonbro (Sumber:  Pexels.com ) Puan, pernah nggak sih bikin rencana dengan penuh keyakinan, tapi ujung-ujungnya molor, capek sendiri, atau malah nggak selesai? Tenang, Puan nggak sendirian. Bisa jadi Puan lagi kena planning fallacy . Apa itu Planning Fallacy ?  Planning fallacy adalah bias kognitif yang membuat kita cenderung terlalu optimis saat merencanakan sesuatu. Kita sering meremehkan waktu, tenaga, biaya, dan risiko, sambil meyakini semuanya akan berjalan lancar. Padahal, pengalaman sebelumnya sudah berkali-kali membuktikan: hidup jarang seideal rencana di kepala. Bias ini pertama kali diperkenalkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky lewat pengamatan sederhana dari rekan kerjanya yang sering salah memperkirakan durasi proyeknya sendiri. Meski pernah telat atau gagal sebelumnya, kita tetap merasa, “Kali ini pasti beda.” Inilah jebakan planning fallacy .  Teknik Tiga Skenario sebagai Alternatif Untuk mengurangi bias ini, P...

Soft Skill, Kunci Bertahan Puan di Dunia Nyata

  Sumber:  istockphoto.com P uan, coba deh jujur, apakah Puan pernah merasa gugup waktu disuruh presentasi? Atau bingung harus gimana saat ada konflik di kelompok tugas? Padahal nilai Puan bagus, tugas selalu selesai tepat waktu, tapi kok tetap merasa kurang siap masuk dunia nyata? Nah, bisa jadi Puan belum banyak dapet bekal soft skill. Apa Sih Sebenarnya Soft Skill Itu? Soft skill itu bukan soal pintar matematika, jago coding, atau hapal teori. Soft skill adalah kemampuan yang berhubungan dengan cara kita berinteraksi dengan orang lain, bagaimana kita berpikir, berkomunikasi, dan mengelola diri sendiri dalam berbagai situasi. Bayangin deh, Puan kerja di sebuah tim. Tugasnya nggak terlalu sulit, tapi ternyata lebih susah kerja bareng orang yang beda gaya, beda opini, bahkan kadang nggak enakan. Nah, disinilah soft skill mulai terasa penting. Gimana cara menyampaikan ide dengan jelas, cara berkompromi, mendengar, dan menyelesaikan konflik, semua itu termasuk soft skill. B...

Menemukan Ide dan Makna di Balik Rasa Bosan

      Photo by Kathy Jones Pernah gak Puan merasa sangat gatal ingin merogoh tas dan mencari ponsel padahal cuma sedang mengantre kasir selama satu menit? Atau mungkin saat lampu merah, tangan otomatis mencari ponsel seolah-olah menunggu 30 detik tanpa melakukan apa-apa itu sangat menyiksa?   Di zaman sekarang, rasanya aneh ya kalau kita tidak memegang ponsel meski hanya sebentar. Namun, tahukah Puan? Ternyata rasa bosan yang selama ini kita hindari habis-habisan itu adalah hal yang justru kita butuhkan.   Apakah Lebih Baik Kesetrum daripada Bosan? Ada eksperimen unik dari Harvard, Puan. Orang-orang diminta duduk diam di ruangan kosong selama 15 menit tanpa alat komunikasi. Pilihannya cuma dua, duduk diam dengan pikirannya sendiri, atau menekan tombol yang akan memberikan sengatan listrik kecil yang menyakitkan. Hasilnya mengejutkan! Mayoritas orang lebih memilih untuk menyengat diri sendiri dengan listrik daripada harus berlama-lama dengan kebosanan mereka. Bay...

Unlocking the It Girl Mindset: Rahasia Menjadi Versi Terbaik Dirimu

  Sumber: Pinterest Pernahkah Puan bertanya-tanya kenapa beberapa orang selalu terlihat mempesona, penuh percaya diri, dan memiliki aura yang membuat semua mata tertuju pada mereka? Apakah itu merupakan bawaan dari lahir atau ada rahasia di baliknya? Well , jawabannya hanya terletak pada satu hal, yaitu ‘ It Girl Mindset ’. Sebenarnya, apa sih ‘It Girl Mindset ’ itu? Yuk, simak pembahasannya pada artikel ini! Pengertian It Girl Mindset Melansir dari halaman Plum Healthy Fine , It Girl digambarkan sebagai perempuan yang memiliki percaya diri, modis, dan menjadi idaman bagi banyak orang. Mereka ini merupakan simbol dari kekuatan dan keanggunan dengan menjadi diri sendiri sebagai ciri khasnya. Seorang It Girl biasanya bangga untuk menjadi dirinya yang paling autentik. Oleh karena itu, banyak orang yang mengagumi mereka dan ingin menjadi seperti mereka. It Girl juga tidak bertindak dengan ragu-ragu, fokus pada tujuan serta pengembangan diri, dan tidak peduli dengan tanggapan buruk o...