Langsung ke konten utama

Lebih dari Sekadar Boneka Cantik: What Can We Learn from Barbies

Salah satu adegan dari Barbie: A Fairy Secret (www.primevideo.com) Waktu kecil, Puan mungkin mengenal Barbie hanya sebagai boneka berambut pirang dengan baju serba pink dan rumah impian yang estetik. Tapi kalau Puan lihat lebih dalam, terutama lewat pesan yang disampaikan dalam film Barbie, ada banyak banget pelajaran hidup dan self-improvement yang relatable buat kehidupan Puan sekarang. Barbie bukan lagi sekadar simbol kecantikan ideal yang bikin orang insecure . Justru, dunia Barbie bisa mengajarkan Puan tentang penerimaan diri, keberanian mendefinisikan sukses versi sendiri, dan pentingnya merangkul segala ketidaksempurnaan sebagai manusia. Baca juga: Cara Baru Jadi Soft & Powerful: Mengulik Tren Hyper Femininity! Yuk, Priska bedah pelajaran apa saja yang bisa Puan ambil dari karakter Barbie! " You Can Be Anything " Itu Nyata, Tapi Nggak Harus Sempurna Slogan klasik Barbie, " You Can Be Anything ", mengajarkan bahwa perempuan berhak bercita-cita setinggi mu...

Tanpa Validasi Sana-Sini, 'Be of Service' Ternyata Kunci Pede yang Paling Slay!


Image by: Roxie Nafousi


Pernah nggak sih, Puan ngerasa insecure gara-gara kelamaan scrolling TikTok? Lihat si A glow up maksimal, si B punya bisnis sendiri, sementara kita? Masih sibuk berantem sama jerawat atau pusing mikirin tugas kuliah yang nggak habis-habis. Rasanya pengen banget punya rasa pede buat tampil atau mulai sesuatu, tapi kok susah ya? 

Baca juga: https://puanbisa.blogspot.com/2025/10/cara-membangun-kepercayaan-diri-untuk.html 

Nah, kalau Puan terus-terusan fokus pada diri sendiri, ending-nya malah makin insecure karena manusia cenderung lebih mampu melihat kekurangannya sendiri dibanding kelebihannya. Menurut buku Confidence karya manifesting queen Roxie Nafousi, rahasia buat tampil pede itu justru adalah dengan mengalihkan fokus kita keluar, yaitu dengan membantu orang lain.

Iya, Roxie bilang salah satu cara paling ampuh buat bangun rasa pede adalah dengan being of service alias jadi sosok yang bermanfaat buat orang lain. Kedengarannya berat ya, Puan? Padahal simpel, bisa dalam bentuk hal-hal kecil, tapi efeknya gong banget. Kok bisa?

  1. Stop overthinking

Saat kita fokus menolong orang lain, suara negatif di kepala yang biasanya sibuk mengkritik kekurangan diri sendiri cenderung mereda. Kita berhenti merasa nggak cukup karena perhatian kita tersita oleh kebutuhan orang lain.

Misalnya, pas Puan sibuk bantuin teman yang lagi galau atau kasih compliment ke orang asing, otak Puan nggak bakal sempat buat mikirin "Aduh, aku kurang ini, aku kurang itu." Fokus kita jadi berpindah dari kekurangan ke kelebihan yang bisa kita kasih.

  1. Membuktikan value melalui tindakan

Percaya diri tumbuh dari bukti, bukan sekadar kata-kata motivasi. Ketika kita melihat dampak positif yang kita berikan pada orang lain, otak kita menerima bukti nyata bahwa kita adalah orang yang berharga dan dibutuhkan.

Misalnya, pas Puan bantu orang dan lihat mereka tersenyum karena bantuan Puan, di situ Puan bakal ngerasa: "Wah, ternyata aku berguna ya? Aku punya power buat bikin hari orang lain lebih baik." Keyakinan seperti itu bikin Puan makin percaya diri buat tunjukkin value lain yang Puan punya.

  1. Melepas ego dan drama persaingan

Di umur kita yang lagi jadi momen pencarian jati diri ini, rasanya semua hal jadi ajang saingan. Tapi dengan membantu sesama, Puan keluar dari "siklus negatif” perbandingan yang nggak sehat itu. Puan nggak lagi merasa tersaingi, tapi justru merasa berdaya karena mampu berkontribusi nyata. Real queens fix each other’s crowns, kan?

Baca juga: https://puanbisa.blogspot.com/2025/01/hidup-tanpa-fopo-rahasia-menjadi-lebih.html 

Jadi, buat Puan yang lagi merasa low energy atau kurang pede, coba deh mulai sekarang cari satu hal kecil buat bantu orang sekitar. Nggak perlu muluk-muluk, kasih semangat ke teman yang lagi ujian juga sudah cukup, kok. Ingat ya Puan, rasa percaya diri yang paling kokoh itu datangnya dari dalam, saat Puan tahu bahwa kehadiran Puan itu membawa makna buat dunia. Let’s be confident and keep shining, Puan!

Referensi
Nafousi, R. (2022). Manifest: 7 Steps to Living Your Best Life. Chronicle Books.

Author & Editor
Dwi Khumaeroh Saadah

Komentar

Rubik Puan Popular

Takut Gagal? Justru Itu Jalan Awal Tumbuh, Puan!

Photo by Eva Bronzini Pernah nggak sih, Puan ngerasa jantung berdebar tiap mau ambil keputusan besar? Misalnya, daftar beasiswa ke luar negeri, apply kerjaan impian, atau berani presentasi di depan banyak orang. Sering kali pikiran seperti, “Kalau gagal gimana ya? Malu banget, semua orang pasti ngelihat aku nggak mampu,” muncul lebih dulu daripada semangat mencoba. Kalau iya, Puan nggak sendirian. Banyak perempuan muda juga ngalamin hal yang sama. Itu namanya fear of failure alias rasa takut gagal. Puan, tahu nggak? Rasa takut gagal itu sebenarnya sinyal. Artinya, Puan lagi menghadapi sesuatu yang penting dan bermakna. Kalau sesuatu nggak penting, kita biasanya santai aja, kan? Justru karena itu penting, makanya muncul rasa takut. Dan kabar baiknya: rasa takut itu bukan musuh. Ia bisa jadi titik awal pertumbuhan kalau kita berani melangkah melewatinya. Growth Mindset: Cara Melihat Gagal Sebagai Jalan Belajar Psikolog Carol Dweck ngenalin konsep growth mindset , yaitu pola pikir bah...

Spotlight Effect: Fenomena Psikologis Ketika Seseorang Merasa Diperhatikan Oleh Banyak Mata

Image by  Newristics Puan pernah nggak sih berada di suatu tempat keramaian, misalnya foodcourt dan hendak memesan makanan, tetapi secara tidak sengaja Puan menyenggol gelas di sekitar Puan dan gelas tersebut pecah, lalu ketika sibuk membersihkan gelas tersebut, Puan merasa bahwa sorotan orang-orang di sekitar memperhatikan Puan secara seksama dan seketika Puan mendadak kaku akibat perasaan tersebut. Pernah mengalami hal tersebut? Jika pernah, hal tersebut dinamakan spotlight effect atau efek sorotan. Spotlight effect merupakan suatu fenomena, di mana Puan berpikir bahwa semua orang memperhatikan Puan. Fenomena ini telah dikenal dalam ilmu psikologi sejak tahun 2000, persisnya ketika Thomas Gilovich, Victoria Husted Medvec, dan Kenneth Savitsky meluncurkan studi dengan judul, " The Spotlight Effect in Social Judgment: An Egocentric Bias in Estimates of The Salience of One's Own Actions and Appearanc e". Seorang dosen psikologi di University of California , Berkeley, Ame...

Manifestasi Saja Nggak Cukup, Yuk Kenali Cara Kerja Law of Attraction!

Sumber: pexels.com Coba buka TikTok, Instagram, atau X terus perhatikan konten yang muncul di beranda Puan. Mungkin Puan akan menemukan berbagai video tarot, ramalan masa depan, atau kalimat seperti " claim this energy " dan " the universe has something planned for you ". Konten-konten seperti ini semakin akrab di media sosial dan sering dikaitkan dengan law of attraction (LOA) atau hukum tarik-menarik, yang kini lebih populer kini lebih populer dengan sebutan manifestasi. Apa Itu Law of Attraction ? Secara sederhana, law of attraction merupakan gagasan bahwa pikiran dan perasaan seseorang dapat menarik pengalaman yang serupa ke dalam kehidupannya. Jika Puan semakin sering memiliki pikiran positif, maka semakin terbuka pula jalan bagi berbagai hal positif untuk hadir di Puan. Sebaliknya, semakin sering Puan berpikir negatif atau berburuk sangka, maka Puan akan lebih sering menarik pengalaman yang kurang menyenangkan. Konsep ini bukan hal baru. Gagasannya telah lam...

Pura-pura Bahagia itu Bahaya, Kenali Dampaknya!

  Sumber: BeautyJournal.id Pernahkah Puan mendengar istilah " fake it until you make it "? Banyak orang melakukan ini dengan harapan meyakinkan diri dengan mengatakan kalimat afirmasi seperti kamu bahagia, beban yang kamu hadapi kecil, kamu bisa, dan kamu tidak akan sedih akan membuat diri kita merasa lebih baik. Namun, apakah benar? Konsep " fake it until you make it " sama dengan konsep pura-pura bahagia. Terlebih di zaman yang serba digital ini, sikap pura-pura bahagia semakin mudah untuk dilakukan. Contohnya seperti saat kita mengirimkan pesan seringkali kita menggunakan emoji senyum, padahal kita tidak benar-benar tersenyum dan bahagia, bisa jadi kita sedang dalam mood  yang buruk. Dampak dari Berpura-pura Bahagia Puan, berpura-pura bahagia tidak selamanya bisa dilakukan, dengan berpura-pura baik-baik saja tidak akan menjadikan kita benar-benar kuat, sebaliknya hal tersebut akan menghisap energi kita hingga lenyap jika diteruskan. Oleh karena itu, yuk simak dam...

Membangun Kepercayaan Diri: Menerima Diri Sendiri di Luar Society's Standards

“Society’s Standards”, pernahkah Puan mendengar istilah ini? Gampangnya, society’s standards adalah suatu standar yang dijadikan sebagai suatu acuan. Society’s standards biasanya memegang prinsip kesempurnaan. Oleh karena itu, sebagian besar dari Puan mungkin saja pernah merasakan tekanan dari society‘s standards. Tekanan yang kita rasakan akibat society‘s standards sudah sering kita rasakan bahkan sebelum kita mengenal kata “sempurna”. Banyak dari Puan mungkin pernah didorong untuk menjadi seseorang yang bukan sosok diri Puan hanya untuk bisa masuk dalam society. Society menginginkan Puan untuk menjadi sempurna. Seperti, harus menjadi pintar, lucu, cantik, berbakat, dan masih banyak lagi terkadang hanya untuk bisa diterima di suatu lingkungan. Percayalah Puan, lingkungan seperti sangat tidak sehat untuk ditinggali. Banyak orang diluar sana melakukan hal yang tidak mereka ingin lakukan agar bisa diterima dalam society. Mengubah opini, gaya rambut, fitur wajah, dan lain sebagain...