Langsung ke konten utama

Postingan

Perfectionism Paralysis: Saat Keinginan Jadi Sempurna Malah Bikin Puan Nggak Mulai-Mulai

Ilustrasi seseorang yang mengalami perfectionism paralysis (rri.co.id) Pernah nggak sih Puan punya ide tulisan atau tugas yang bagus banget di kepala, tapi begitu mau ngetik kalimat pertama, Puan malah diam berjam-jam? Puan terus-terusan rapihin format, milih font, atau mikirin kata pembuka yang paling pas, sampai akhirnya Puan capek sendiri dan memilih buat buka TikTok? Kalau pernah, Puan lagi ngerasain yang namanya Perfectionism Paralysis. Secara psikologis, perfeksionisme itu sering kali disguise alias penyamaran dari rasa takut gagal. Puan netapin standar yang sangat tinggi, lalu otak Puan merasa terintimidasi sendiri dengan standar itu. Karena takut hasilnya nggak sempurna atau takut dinilai jelek, otak akhirnya mengambil jalan pintas: mending nggak usah dikerjain sekalian. "Done is Better than Perfect" Kata-kata di atas mungkin bukan cuma kata-kata mutiara biasa, tapi penenang paling ampuh buat perfectionism paralysis. Padahal, prinsip utama self-improvement yang sehat...

Waktu Puan Bisa Bersama Perempuan Indonesia Bagian: Level Up Your Career!

  Puan Bisa , komunitas pemberdayaan perempuan muda Indonesia yang berfokus pada self-improvement , karier, dan kesehatan mental, kembali menggelar webinar edukatif dalam salah satu program unggulannya bertajuk Learning Space . Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom pada hari Senin, 28 April 2025 . Webinar dimulai dengan sesi pre test yang mengajak peserta untuk mengisi pilihan terkait tipe pekerjaan yang sesuai dengan referensi dan preferensi masing-masing. Sesi ini menjadi pembuka sebelum peserta memasuki materi utama yang dibawakan oleh Kak  Lucy Natasya , seorang educational content creator aktif di platform Instagram dan TikTok. “Karier itu bukan cuma soal jurusan kuliah, tetapi tentang bagaimana aku bisa memberikan nilai terhadap itu dan tumbuh bersama prosesnya,” ujar Kak Lucy (28/04), membuka sesi pemaparan materi. Kak Lucy menekankan bahwa karier bukan sesuatu yang selalu langsung ditemukan, tetapi bisa dibentuk perlahan seiring waktu dan bah...

Puan Bisa Ciptakan Ruang Bersuara Untuk Generasi Perempuan Muda yang Menginspirasi

Jakarta, 20 Oktober 2024 – Puan Bisa, komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda Indonesia, memetakan permasalahan terkait dengan dinamika psikologi perempuan muda dalam menghadapi fase quarter life crisis. Hal ini mengakibatkan lebih dari 80% perempuan muda Indonesia mengalami demotivated , overthinking , resah, tidak percaya diri, dan dampak buruk lainnya. Berangkat dari pemetaan permasalahan tersebut, Puan Bisa mengadakan acara Puan Bisa Festival 2024 dengan tema “ Bright Minds, Bold Voices: Nurturing the Next Generation of Inspirational Women ” dengan rangkaian acara dimulai tanggal 7 hingga 20 Oktober 2024 sebagai hari peringatan ulang tahun Puan Bisa yang ke-4 yang dihadiri total lebih dari 65 perempuan muda.  Puan Bisa merupakan organisasi pemberdayaan perempuan dengan gerakan penyampaian pesan positif mengenai self- improvement , career serta mental health sehingga para perempuan muda dapat melewati masa mudanya dengan kegiatan yang positif dan terarah. Sesuai dengan...

Kisah di Balik Palet Makeup: Perjalanan Perempuan Muda Menemukan Suaranya

Jakarta, 23 Desember 2024 – Sebagai komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda Indonesia, Puan Bisa menyadari adanya kebutuhan untuk mengekspresikan diri secara bebas terutama bagi generasi muda dalam dinamika kehidupan modern yang inklusif saat ini. Tercatat dalam survey Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2021) sebanyak 68% perempuan muda merasa kurang percaya diri dalam menunjukan ekspresi diri mereka di ruang publik karena tekanan sosial dan kecantikan yang tidak realistis. Berangkat dari kebutuhan ini, Puan Bisa mengadakan acara “Learning Space: Beauty Class Workshop ” dengan tema “Empower Voices: The Beauty in Self Expression” dalam rangka meningkatkan kesadaran perempuan muda akan pentingnya mengekspresikan diri melalui keterampilan praktis yaitu make-up class sebagai inspirasi membangun kepercayaan diri dan merayakan keberagaman kecantikan sebagai pemberdayaan diri. Acara ini dilaksanakan pada hari Minggu tepatnya 22 Desember 2024 yang dihadiri total...

Berbagi Luka atau Trauma Dumping? Kenali Bedanya!

  Sumber: Freepik Berbagi cerita kepada keluarga, teman, atau pasangan menjadi hal yang menyenangkan dan menjadi hal yang rutin dilakukan. Karena rasanya dengan saling berbagi cerita, kita bisa menjadi saling memahami satu sama lain. Namun, tahukah Puan kalau terlalu banyak menceritakan perasaan atau oversharing bisa menjadi curhatan yang toxic ? Curhatan yang toxic atau trauma dumping mengacu pada perilaku seseorang yang berulang kali membagikan pengalaman traumatis mereka kepada orang lain dengan tujuan mencari simpati, tanpa adanya refleksi diri atau tanggung jawab. Perilaku ini sering kali mendominasi percakapan dan dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman, tidak diberi kesempatan untuk merespons, atau bahkan membuat mereka tidak tahu bagaimana cara merespons dengan baik.  Perbedaan antara Trauma Dumping dan Curhatan yang Sehat "Melampiaskan emosi seringkali menjadi cara untuk berbagi rasa frustrasi dengan seseorang yang Anda percaya untuk mengurangi stres," Ujar D...

Menerapkan Stoicism dalam Bermedia Sosial: Mau Upload Sesuatu tapi Malu? Tenang, Orang-Orang Nggak Se-Peduli Itu Kok!

Image by  www.socialmediae.com         Pernah nggak sih, Puan merasa ragu untuk posting sesuatu di media sosial? Misalnya, takut dibilang nggak produktif atau dianggap nggak ada kerjaan. Banyak sekali orang yang saat ini sedang sibuk membangun personal branding di Instagram, LinkedIn, atau media sosial lainnya. Mulai dari upload berbagai pencapaian, pengalaman di organisasi, hingga kegiatan volunteer yang kelihatannya asik dan keren banget. Nggak sedikit juga yang update hal-hal tersebut bahkan di akun kedua atau second account mereka.           Nggak ada yang salah dengan hal itu. Namun, di sisi lain, banyak juga yang akhirnya jadi minder . "Duh, kalau gue cuma upload foto kopi doang, kelihatan nggak produktif banget, nggak, sih?" atau "Mau post selfie aja kok jadi mikir-mikir, takut dikira nggak ada kerjaan." Pernah merasa begitu? Yuk, baca artikel ini sampai selesai! Pahami Fungsi Media Sosial yang Berbeda-beda ...

Burnout, Sibuk, Tapi Gak Produktif? Mungkin Puan Terjebak Time Poverty

  Sumber:  chubb.com Puan pernah enggak merasa kalau waktu 24 jam dalam sehari enggak cukup? Bangun pagi dengan daftar tugas yang panjang, bekerja atau kuliah, mengurus keperluan pribadi, lalu tiba-tiba hari sudah berakhir tanpa sempat beristirahat. Ini namanya Puan mengalami fenomena yang disebut time poverty atau"kemiskinan waktu".     Ini bukan sekadar soal sibuk, tapi lebih ke perasaan tidak punya cukup waktu untuk diri sendiri. Tekanan multitasking dalam karier, pendidikan, dan kehidupan sosial sering bikin Puan terjebak dalam siklus tanpa akhir. Tapi, kenapa ini lebih sering dialami perempuan? Dan, yang lebih penting, gimana cara keluar dari jebakan ini? Apa Itu Time Poverty? Time poverty adalah kondisi ketika seseorang merasa kekurangan waktu karena banyaknya tanggung jawab. Ini bukan hanya soal pekerjaan atau studi, tapi juga ekspektasi sosial yang menuntut Puan untuk sukses di semua lini kehidupan—karier, keluarga, dan penampilan. Kenapa Kita...

Ditolak Magang? Yuk, Bangkit dan Coba Lagi!

Puan, pernahkah menerima email seperti ini? "Terima kasih telah melamar posisi ini. Namun, setelah pertimbangan, kami memutuskan untuk melanjutkan dengan kandidat lain. Semoga sukses untuk perjalanan karirmu!" Membaca kalimat itu bisa terasa seperti pukulan telak, bukan? Apalagi kalau Puan sudah menunggu berhari-hari, penuh harap, dan merasa cocok dengan posisi yang dilamar. Namun, apakah penolakan ini berarti Puan kurang berbakat atau tidak cukup baik? Belum tentu, Puan! Banyak faktor yang membuat lamaran magang ditolak, dan sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan atau potensi. Bisa jadi, perusahaan mencari kandidat dengan pengalaman spesifik yang saat ini belum Puan miliki. Atau proses seleksinya sangat kompetitif, dan Puan kalah tipis dari kandidat lain. Namun, di balik semua itu, ada satu hal penting yang perlu Puan tahu: ditolak itu bukan akhir dari segalanya. Penolakan adalah bagian dari perjalanan menuju sukses. Nah, daripada tenggelam dalam overthinking ,...